Tuesday , October 15 2019
Home / Ragam / Akhir Zaman / Sikap Seorang Muslim Dalam Menyikapi Hadits Fitnah Akhir Zaman (Bagian 2)

Sikap Seorang Muslim Dalam Menyikapi Hadits Fitnah Akhir Zaman (Bagian 2)

Oleh: Furqan

(Mata-Media.Com) – Alhamdulillah, pada edisi sebelumnya telah dijelaskan mengenai sebagian tata cara memperlakukan hadits-hadits fitnah akhir zaman, khususnya hadits-hadits yang shahih. Sebelumnya telah menerangkan bahwa umat Islam wajib beriman kepada seluruh kabar yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits, termasuk kabar mengenai fitnah-fitnah akhir zaman yang termasuk dalam kabar ghaib.

Pembahasan sekarang ini adalah menekankan tentang pentingnya memverifikasi keshahihan hadits-hadits tersebut dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus keshahihan takwilnya sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits tanpa mempedulikan hadits-hadits palsu dan takwil-takwil bathil. (Baca: Sikap Seorang Muslim Dalam Menyikapi Hadits Fitnah Akhir Zaman (Bagian 1)

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, manusia bervariasi dalam menghadapi konsekuensi iman. Mereka juga bervariasi dalam menghadapi kewajiban ini, yakni iman kepada kabar para rasul yang menceritakan mengenai fitnah-fitnah akhir zaman dan tanda-tanda kiamat.

Ada yang mengimaninya dengan sebenar-benarnya. Ada yang kurang keimanannya lantaran hatinya berpenyakit. Ada yang mengingkarinya sama sekali layaknya munafik yang menampakkan keimanan.  Ia mengkritik kabar-kabar tersebut pada sisi-sisi yang dikiranya tidak diketahui oleh orang-orang beriman. Ada banyak contoh dalam Kitabullah dan sirah Rasulullah yang menjelaskan perbedaan sikap ini.

Orang-Orang Kafir; Datangkan Apa Yang Engkau Janjikan Jika Memang Engkau Benar

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepada hamba-Nya Nuh ‘alaihissalam sedikit mengenai nasib kaumnya. Allah lalu memerintahkannya untuk membuat kapal untuk menyelamatkan orang-orang yang beriman dari azab yang akan menimpa orang-orang musyrik. Namun orang-orang Kafir, meskipun nabi mereka telah mengabarkan perkara ghaib, yaitu datangnya azab yang telah ditakdirkan oleh Allah akan menimpa mereka, tetap tidak percaya.

Orang-orang Kafir malah mengejek Nuh dan azab yang diancamkannya itu. Mereka malah menuntut untuk disegerakan. Hingga apa yang sebelumnya mereka hina itu akhirnya menimpa mereka. Sementara Nabiyullah Nuh meyakini janji Rabbnya dan mengancam kaumnya bahwa apa yang dijanjikan Rabbnya itu pasti akan menimpa mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (36) وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ (37) وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ (38) فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ (39)

“Dan diwahyukan kepada Nuh bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman diantara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu, janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang dzalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya ber­jalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh, “Jika kalian mengejek kami maka sesungguhnya kami (pun) mengejek kalian sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kalian akan mengetahui siapa-siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. (QS. Hud 11 : 36 – 39)

Kita mendapati adegan ini terus berulang di kisah para nabi dengan kaumnya yang Kafir. Mereka mendustakan dan mengejek ancaman itu meskipun yakin dengan kejujuran nabinya. Demikian juga sikap Kafir Quraisy terhadap Rasulullah. Seperti yang diceritakan oleh Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu mengenai permusuhan kaumnya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika tingkah mereka semakin keterlaluan, Nabi mengancam mereka dengan sesuatu yang amat buruk, meskipun dalam kondisi lemah, sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Quraisy, dengarlah! Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, aku datang kepada kalian dengan penyembelihan!”.

Sabda Rasulullah itu membuat mereka terhenyak. Tidak ada seorang lelaki pun kecuali terdiam seperti ada burung yang hinggap di kepalanya. Hingga orang yang paling keji caciannya bertutur kata padanya dengan lemah lembut, katanya, “Silahkan engkau pergi wahai Abul Qasim. Silahkan engkau pergi dengan baik. Demi Allah, engkau bukanlah orang bodoh”. Namun kemudian hari berikutnya mereka kembali mencaci maki beliau meskipun sebelumnya merasa gentar dengan ancamannya.

Orang-Orang Munafik; Apa Yang Dijanjikan Allah dan Rasul-Nya Hanyalah Tipuan

Kita juga mendapati orang-orang munafik berusaha memfitnah kebenaran dakwah Rasulullah dengan cara menyebarkan keraguan mengenai kabar gembira yang dikabarkannya kepada kaum Muslimin, pada kondisi yang paling genting. Hal ini bertujuan untuk melemahkan tekad kaum Muslimin.

Orang-orang munafik mengeksploitasi situasi lemah yang menimpa kaum Muslimin untuk membuat kaum Muslimin skeptis dengan kebenaran janji Rasulullah, bagaimana ia memberikan kabar gembira akan kemenangan di seluruh penjuru bumi sedangkan mereka sendiri khawa_r diserbu musuh kapan saja yang bisa berakibat memberangus total eksistensi mereka? Imam Abu Ja’far At-Thabari meriwayatkan ucapan Qotadah dalam tafsir kalam-Nya,

وَ اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ اِلَّا غُرُوۡرًا

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (QS. Al-Ahzab 33 : 12)

Qotadah berujar, “Hal itu dikatakan oleh beberapa orang munafik. Mereka berucap Muhammad menjanjikan kepada kita Persia dan Romawi sedangkan kita terkepung di sini sampai-sampai kita tidak bisa keluar untuk membuang hajat. Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita itu hanyalah tipuan belaka”. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an)

Orang-Orang Dzalim; Pergi Berperanglah Kamu dan Rabbmu Saja

Penyakit ini, yaitu bersikap skeptis dengan yang dikabarkan oleh para nabi dan rasul, terkadang tidak muncul melalui kata-kata namun justru muncul dengan cara tidak mau menerapkan perkara yang berhubungan dengan berita-berita ini.

Seperti itulah sikap Bani Israel terhadap berita yang dikabarkan oleh Nabi Musa bahwa Allah telah menyiapkan tanah suci untuk mereka. Mereka hanya diperintahkan untuk memasukinya saja, karena Allah akan menolong mereka atas musuh-musuhnya dan mewariskan tanah kekuasaannya. Inilah yang dipahami oleh orang-orang yang beriman dari Bani Israel, ujarnya,

ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 

“Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al-Maaidah 5 : 23)

Namun jawaban orang-orang dzalim itu adalah membuat skeptis akan janji ini dengan cara tidak mau melaksanakan perintah Allah untuk memasuki negeri mereka, beralasan bahwa negeri itu dikuasai oleh orang-orang lalim yang menghalangi dari terlaksananya janji Allah itu, sebagaimana kalam Allah Ta’ala,

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ. قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”. (QS. Al-Maaidah 5 : 21 – 22)

Maka mereka dihukum oleh Allah tidak mampu memasukinya selama empat puluh (40) tahun. Kemudian Allah tetap memenuhi janji-Nya kepada Bani Israel tersebut. Mereka tetap diwariskan-Nya negeri yang dijanjikan-Nya itu sebagaimana kalam- Nya,

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. (QS. Al-A’raaf 7 : 138)

Hal itu terjadi setelah tumbuhnya generasi yang meyakini janji Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Allah tak akan menyelisihi janji-Nya meskipun manusia menganggapnya tidak segera terwujud. Allah berfirman,

فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ

“Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-raaul-Nya, sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan”. (QS. Ibrahim 14 : 47)

Orang-Orang Beriman; Inilah Janji Allah dan Rasul-Nya

Adapun orang-orang beriman, mereka membenarkan janji Allah dan bertambah keimanannya ketika terjadi pada diri mereka apa yang menimpa orang-orang beriman sebelumnya berdasarkan wahyu. Meskipun dalam berita-berita itu terkandung konsekuensi ujian demi ujian yang akan menyapa mereka dalam perjalanan menggapai pertolongan Allah. Demikianlah sikap mْeَreka mengenai kaۡlamَ Allahۡ,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al-Baqarah 2 : 214)

Ketika pada Perang Ahzab kondisi yang mereka hadapi semakin genting, pada saat itulah mereka mendapati kebenaran kalam Allah tersebut pada semakin jelasnya kekafiran orang-orang munafik, dan yang demikian itu justru semakin menambah keimanan dan keyakinan mereka akan benarnya kalam Allah dan Rasul-Nya.

Imam Abu Muhammad Al-Baghawi berujar, “Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa orang-orang beriman akan menghadapi ujian seperti itu. Maka ketika mereka dikepung tentara Ahzab dan kondisi semakin genting, mereka berucap,

هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidak menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan” (QS. Al-Ahzab 33 : 22). Yakni semakin yakin kepada Allah dan semakin tunduk kepada perintah Allah”. (Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an)

Pembenaran ini kemudian diiringi oleh amal shalih, yaitu tetap teguh berdiri menghadapi tentara Ahzab, bersabar menghadapi kondisi genting, dan terus berperang hingga Allah memutuskan perkara antara mereka dengan orang-orang musyrik itu.

Kegembiraan mereka dengan terwujudnya janji Allah itu, yakni kemenangan, lalu disertai dengan kegembiraan lain melalui kabar gembira yang disampaikan oleh Rasulullah. Kabar gembira yang berisi bahwa jalannya peperangan antara Kafir Quraisy dengan kaum Muslimin akan berubah seratus delapan puluh (180) derajat. Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kitalah yang akan menyerang mereka dan mereka tidak akan balik menyerang kita”. (HR. Bukhari)

Orang-orang beriman terus membenarkan semua itu hingga Allah menaklukkan Makkah, pusat komando orang-orang musyrik ketika itu.

Demikianlah keadaan orang-orang bertakwa di setiap masa. Beriman kepada yang ghaib, termasuk berita-berita masa depan yang telah dikabarkan pada mereka. Mereka beriman kepada seluruh apa yang diturunkan kepada para nabi, termasuk kabar-kabar mengenai akhir zaman.

Mereka meyakini hari kiamat ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya dan dibariskan untuk dihisab. Mereka meyakini tanda-tanda kiamat, yang kiamat tidak akan terjadi kecuali setelah tanda-tanda tersebut muncul. Mereka itu sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Baqarah 2 : 2 – 5). [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...