Sunday , December 15 2019
Home / Ragam / Analisa / Benarkah Kitab Suci Itu Fiksi Seperti Perkataan Rocky Gerung?

Benarkah Kitab Suci Itu Fiksi Seperti Perkataan Rocky Gerung?

Oleh: Tim Redaksi Mata-Media.Com

(Mata-Media.Com) Selama sepekan ini, salah satu Top 5 News Nasional yang sering muncul di media massa, baik cetak maupun elektronik hingga menjadi perbincangan di media sosial (medsos) sampai hari Minggu, 15 April 2018 adalah perkataan Rocky Gerung yang menyebut bahwa kitab suci itu adalah fiksi.

Pernyataan kontroversial itu disampaikan Rocky Gerung dalam acara talkshow Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa malam, 10 April 2018 lalu. Menurut Rocky Gerung, saat ini kata fiksi dianggap negatif karena dibebani kebohongan, sehingga fiksi itu selalu dimaknai sebagai kebohongan.

“Saya mulai pelan-pelan buat nyari cara. Asal usul dari masalah ini adalah fiksi atau fakta, dan itu sebetulnya permulaan yang buruk, karena saat kita sebut kata fiksi di kepala kiita adalah fiktif. Fiction itu adalah kata benda selalu ada pengertian literatur di dalam kata fiksi, karena diucapakan di sebuah forum politik, maka dia dianggap sebagai buruk,” ujar Rocky.

“Fiksi itu sangat bagus, dia adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi, itu fungsi dari fiksi, dan kita hidup di dunia fiksi yang lebih banyak daripada di dunia realitas, fiksi lawannya realitas bukan fakta. Fiksi lawannya realitas bukan fakta, jadi kalau Anda bilang itu fiksi dan kata itu menjadi penyoratif, jadi Anda tidak memperbolehakn anak Anda membaca fiksi karena sudah dua (2) bulan ini kata fiksi sudah menjadi kata yang buruk,” lanjutnya.

Setelah itu, dosen mata kuliah filsafat di Universitas Indonesia (UI) itu mempertanyakan soal kitab suci. “Kitab suci itu fiksi bukan? Siapa yang berani jawab?,” tanya Rocky sembari disambut tawa kecil para penonton ILC dan Rokcy sendiri pun tersenyum. “Kalau saya berbicara bahwa fiksi itu adalah imajinasi, kitab suci itu adalah fiksi, karena belum selesai, belum tiba itu, Babat Tanah Jawi itu fiksi,” ujar Rocky.

Rocky kemudian menjelaskan, fungsi dari fiksi adalah untuk mengaktifkan imajinasi yang berperan menuntun manusia berpikir untuk lebih imajinatif. “Sekarang kata itu dibully oleh politisi,” ucap Rocky. Kemudian, ada narasumber ILC dari PDIP yang mempertanyakan soal fiksi apakah dapat menjadi tumpuan prediksi.

“Lebih dari itu, bahkan bukan untuk prediksi bahkan untuk destinasi. Anda percaya pada fiksi dan Anda dituntun oleh kepercayaan itu, bisa tiba, nggak bisa tiba, itu fungsi kitab suci. Anda percaya kita suci, mengapa Anda abaikan sifat fiksional dalam kita suci, kan itu belum faktual dan belum terjadi, dan Anda dituntun oleh dalil-dalil kita suci bukan secara prediksi. Saya akan terangkan itu supaya kita punya stok argumentasi sebelum disesatkan oleh pembullyan politik. Maka saya pastikan fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif, bisa bedain nggak, itu diada-adain, kalau saya bilang kitab suci itu fiktif, besok saya dipenjara itu, kalau saya bilang itu fiksi, karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci,” jelasnya.

“Kenapa Anda takut kata fiksi itu diucapkan untuk kitab suci, karena kata fiksi itu dibebani sebagai kebohongan, seolah fiksi itu bohong. Fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos, dan itu sifatnya fiksi. Dan itu baik. Fiksi adalah fiction, dan itu berbeda dengan fiktif,” ujarnya.

“Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci itu adalah fiksi,” kata Rocky Gerung.

Untuk diketahui, telos sendiri dalam bahasa Yunani berarti ‘akhir’, ‘tujuan’, atau ‘sasaran’. Roky memperjelas statemennya jika fiksi itu baik, sedangkan yang buruk itu adalah fiktif. (Buka Link: https://www.youtube.com/watch?v=iHWZVMNDdt4)

Rocky kembali menekankan bahwa fiksi adalah baik, sedangkan yang buruk adalah fiktif. Pengamat politik itu kemudian mengambil contoh Mahabharata. Menurutnya, Mahabharata adalah fiksi, tapi itu bukan fiktif. Rocky berargumen, fiksi itu kreatif. Sama seperti orang beragama yang terus kreatif dan ia menunggu telosnya.

“Anda berdoa, Anda masuk dalam energi fiksional bahwa dengan itu Anda akan tiba di tempat yang indah,” ujarnya menjelaskan. Rocky menambahkan, sedangkan dalam agama, fiksi itu adalah sebuah keyakinan. Sedangkan dalam literatur, fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi.

“Lantas bisakah fiksi itu disebut keyakinan, bisa di dalam agama fiksi itu adalah keyakinan, di dalam lietarur, fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi, kimianya sama, orang berdoa dan baca novel sama, di dalam tubuh sama, jenis hormon yang diproduksi sama, jadi itu pengantar kekacauan publik yang dibuat politisi itu, ujarnya.

Sejak pernyataan kontroversial Rocky Gerung tersebut, redaksi situs online Mata-Media.Com (MMC) sendiri mendapatkan sejumlah pertanyaan dari para pembaca terkait hal itu. “Benarkah kitab suci itu fiksi seperti kata Rocky Gerung dalam acara ILC?? Tolong Mata Media jelaskan donk terkait hal itu”. Ada pula yang bertanya lebih agak spesifik, “Apakah benar kita suci Al-Qur’an itu fiksi ustadz?”.

Sebelum kami menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya kita harus bisa memilih dan memilah beberapa penjelasan terkait hal tersebut. Pertama, setidaknya kita harus tahu dan memahami apa definisi FIKSI dan FIKTIF itu. Kedua, apa yang dimaksud dengan kitab suci itu. Ketiga, siapa sosok Rocky Gerung dan bagaimana agamanya. Keempat, bagaimana umat Islam dalam melihat dan meyakini kitab suci Al-Qur’an dari sudut pandang dalil-dalil yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga kemudian, dalam hal ini kita bisa lebih sedikit menjurus kedalam dan bertanya, “Apakah kitab suci Al-Qur’an itu sesuatu hal yang fiksi?”.

Definisi Fiksi dan Fiktif

Setelah redaksi Mata-Media.Com (MMC) selama hampir sepekan ini membaca dan menelaah kata fiksi dan fiktif dari berbagai referensi, ternyata setiap penjelasaan itu berbeda. Arti dan definisi fiksi dalam kamus bahasa Inggris itu ternyata berbeda dengan arti fiksi dalam kamus bahasa Yunani dan bahasa Latin, maupun dengan kamus bahasa Indonesia itu sendiri.

Namun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi, yang mana dengan kata lain tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta. Fiksi bisa dieskpresikan dalam beragam format, termasuk tulisan, pertunjukan langsung, film, acara televisi, animasi, permainan video, dan permainan peran, walaupun istilah ini awalnya dan lebih sering digunakan untuk bentuk sastra naratif, termasuk novel, novella, cerita pendek dan sandiwara. Fiksi biasanya digunakan dalam arti paling sempit untuk segala “narasi sastra”.

Karya fiksi merupakan hasil dari imajinasi kreatif, jadi kecocokannya dengan dunia nyata biasanya diasumsikan oleh audiensnya. Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata bisa saja terjadi di dunia fiksi. Dengan demikian, fiksi umumnya tidak diharapkan untuk hanya menampilkan tokoh yang merupakan orang nyata atau deskripsi yang akurat secara faktual. Alih-alih, konteks fiksi yang tidak persis berpatokan pada dunia nyata, namun secara umum dipahami sebagai sesuatu yang lebih terbuka terhadap interpretasi.

Sedangkan arti kata fiktif dalam KBBI itu adalah tidak sesuai dengan kenyataan, tidak nyata, hanya terdapat di khayalan, sesuatu yang diada-adakan atau dikarang-karang atau dibuat-buat atau kebohongan, misalnya pembayaran fiktif, kegiatan fiktif.

Namun oleh Rocky Gerung, fiksi itu diartikan sebagai sesuatu yang bisa mengaktifkan imajinasi dan kreatifitas sehingga orang bisa berpandangan jauh kedepan. Hal ini tidaklah mengherankan, karena ia berpandangan seperti itu disebakan latar belakangnya sebagai ahli filsafat. Akan tetapi, salah satu tokoh liberal, Ahmad Sahal dalam akun Twitternya, @sahaL_AS pada Kamis (12/4/2018) menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Rocky Gerung tentang fiksi dan fiktif di ILC itu tujuannya hanya untuk menyerang Joko Widodo (Jokowi).

“26.  Penyataan bahwa kitab suci adlh fiksi (dlm arti mengaktifkan imajinasi) mengandaikan adanya human agency/ author di belakangnya yg mencipta imajinasi tsb? Dgn kata lain, pandangan RG ini mengasumsikan kitab suci mrpkn produk budaya manusia sbgmn Babad tanah Jawi,” tulis Sahal yang juga pernah jadi narasumber dalam acara ILC.

“28. Penyataan RG ttg kitab suci adalh fiksi sebenarnya bisa memunculkan perdebatan menarik, di luar forum ILC, ttg filsafat dan teologi kitab suci, termasuk qur’an. Itu kalo tujuan RG murni ilmiah. Tp apa yg dikemukanan RG ttg fiksi di ILC tujuannya ke yg lain: menyerang Jkw,” lanjut Sahal dalam ciutannya.

Apa & Bagaimana Definisi Kitab Suci?

Menurut KBBI, Kitab Suci adalah gabungan dari dua (2) kata, yaitu Kitab dan Suci. Kitab memiliki arti sebuah buku, sedangkan kata Suci memiliki arti bersih, dalam arti keagamaan yaitu bebas dari dosa, bebas dari noda, dan bebas dari kesalahan. Jadi, kitab suci itu adalah Wahyu Tuhan yang dibukukan, yang memuat ajaran-ajaran tentang seluruh aspek kehidupan bagi seluruh umat beragama.

Sedangkan sejumlah kitab suci yang ada dalam KBBI itu adalah Tripitaka (agama Buddha), Weda (Hindu), Alkitab atau Bibel (agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Kristen Ortodoks, Saksi-Saksi Yehuwa), Al-Qur’an (agama Islam), Talmud (agama Yahudi).

Biografi Rocky Gerung

Rocky Gerung adalah seorang staff pengajar di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) dan juga merupakan seorang peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) sejak tahun 2006. Rocky Gerung lahir di Manado pada tanggal 20 Januari 1959 silam.

Ia menempuh studinya di UI pada tahun 1986 dan memperoleh gelar sebagai sarjana sastra. Rocky juga turut serta mendirikan SETARA Institue pada tahun 2007. Rocky mempunyai cita-cita di mana setiap orang berhak diperlakukan secara sama meskipun adanya keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan.

Sebagai pengamat politik, Rocky Gerung juga diketahui sering menyampaikan kritik keras kepada rezim Joko Widodo (Jokowi). Salah satunya terkait penanganan permasalahan hoax atau berita bohong yang belakangan ini menjadi pembicaraan banyak orang. Menurutnya, Jokowi pada saat ini sedang panik dengan sejumlah kritik yang menghampiri pemerintahannya.

Rocky sangat aktif menulis di berbagai media massa. Sejak tahun 2006 menjadi fellow pada sebuah Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan turut mendirikan SETARA Institute pada tahun 2007, sebuah perkumpulan yang di dedikasikan bagi pencapaian cita-cita dimana setiap orang diperlukan setara dengan menghormati keberagaman. Twitter milik Rocky Gerung adalah https://twitter.com/rockygerung

Lalu, sebenarnya apa agama Rocky Gerung itu? Pertanyaan ini juga muncul secara viral setelah ia mengatakan bahwa kitab suci itu fiksi. Teman lama Rocky Gerung, Ramadhani Aksyah yang juga seorang jurnalis senior mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa agama Rocky. Sebab, Rocky Gerung hampir tidak pernah menunjukkan kecenderungan agamanya semasa di kampus.

Tetapi, Rocky adalah seorang peminat bacaan dan ideologi kiri. Jangan coba-coba menguji Rocky dengan teori Marxis atau Sosialis kalau tidak siap atau ilmu Anda akan tanggung disana. Sebab, lanjut Ramadhani, bisa-bisa Anda terkurung dan terkesima. Rocky menurut Ramadhani sangat fasih menjelaskan logika, cara pikir sets cara pandang gerakan kiri. Kalau kita ikuti kategori Soe Hok Gie, Rocky tidak diragukan lagi adalah “orang yang berada di kiri jalan”.

Rocky juga dikenal dekat dengan tokoh-tokoh Sosialis. Dia biasa diskusi dengan Marsilam Simanjuntak, Sjahrir, Hariman Serigar, Robert Lawang atau Arif Budiman. Dia juga aktif di Sekolah Ilmu Sosial yang didirikan oleh Dr. Sjahrir, sebagai wadah kreasi dan berlatih pikir kader-kader Sosialis di Jakarta. Sementara itu, dari berbagai macam referensi, Rocky Gerung itu beragama Kristen Katolik.

Sedangkan Ahmad Sahal calam cuitannya di Twitter mengungkapkan bahwa Rocky Gerung merupakan pemikir liberalis dan sekuler. “41. Saya tak bilang RG sumbu pendek. RG tetaplah pemikir liberalis, sekuler, feminis, pendukung kebebasan berpikir. Tp tidakkah ia sadar, bahwa meski saat ini kaum sumbu pendek mengelu2kannya, kalo mrk menang dan berkuasa, yg akan jadi korbannya ya sosok kek RG? Wassalam,” tulis Sahal pada Kamis (12/4/2018).

Apakah Kitab Suci Al-Qur’an Itu Fiksi?

Sebetulnya, didalam negara yang menganut paham dan sistem Demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berpendapat, berbicara dan berkeyaninan itu dilindungi oleh Undang-Undang (UU), bahkan yang kebablasan sekalipun. Jadi sebetulnya kalau Rocky Gerung berkata bahwa kitab suci itu fiksi yaa sah-sah saja. Hal ini tentu berbeda jika sebuah pemerintahan itu didalamnya menggunakan sistem atau aturan Islam dan hukum Allah tegak didalamnya secara kaffah, maka perkataan Rocky Gerung mungkin saja akan menjadi masalah.

Sebetulnya didalam acara ILC TV One tersebut, Rocky Gerung tidak secara eksplisit menyebut kata “Kitab Suci Al-Qur’an” ketika ia mengatakan bahwa “Kita Suci itu adalah Fiksi”. Sebab dalam forum tersebut, Rocky Gerung justru memberi contoh kitab Babat Tanah Jawi dan Mahabharata yang dianggapnya sebagai sesuatu yang fiksi menurut definisi dan pola pikir dirinya.

Dalam mengurai persoalan ini, pakar Kristologi, ustadzah Irene Handono mengatakan, kita perlu memahami bahwa manusia itu didalam berbicara berdasarkan atas maklumat Shabiqoh yang ada pada dirinya. Adapun maklumat Shabiqoh itu adalah semua informasi dan pengetahuan yang selama ini telah masuk kedalam otaknya dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Nah, maklumat Shabiqoh-nya Rocky Gerung adalah Kekristenan. Bukan diambil dari khazanah Islam,” ujar Irene Handono pada Rabu (11/4/2018).

Maka menurut mantan Biarawati itu, wajar saja jika Rocky Gerung berkata bahwa “Kitab Suci itu adalah Fiksi”. Sebab, Bibel-nya umat Kristen juga berisi dongeng-dongeng dan khayalan serta rekayasa, bukan Wahyu Tuhan secara orisinil sebagaimana yang difahami seorang Muslim dalam melihat dan menelaah “Kitab Suci Al-Qur’an”. Selain itu, mekanisme periwayatan yang ada didalam Bibel menurut Irene Handono juga sangat berbeda jauh dengan Al-Qur’an.

Oleh karena itu, jika pernyataan Rocky Gerung secara eksplisit menyebut bahwa “Kitab Suci Al-Qur’an itu adalah Fiksi”, maka hal itu adalah sebuah bentuk penistaan terhadap agama, khususnya agama Islam. Hal itu juga tidak jauh beda dengan perkataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 lalu yang menyebut surat Al-Maa’idah ayat 51 sebagai alat kebohongan.

“Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? Dibohongi pakai Surat Al-Maa’idah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan nggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, nggak apa-apa,” begitu penggalan pernyataan Ahok dihadapan warga Kepulauan Seribu, Jakarta.

Tapi bagaimanapun juga dalam acara ILC TV One tersebut, Rocky Gerung telah ngeles terkait makna fiksi. Padahal kenyataannya, definisi fiksi dalam KBBI itu bermakna rekaan, khayalan dan tidak berdasarkan kenyataan, yang berarti jelas sekali lontaran dia tentang kitab suci adalah fiksi. Dan hal ini sangat jelas sekali telah melecehkan agama Islam jika secara jelas Rocky Gerung menyebut kata Al-Qur’an dalam perkataannya.

Dalam penggalan statemennya, Rocky mengatakan, “Lebih dari itu, bahkan bukan untuk prediksi bahkan untuk destinasi. Anda percaya pada fiksi dan Anda dituntun oleh kepercayaan itu, bisa tiba, nggak bisa tiba, itu fungsi kitab suci. Anda percaya kita suci, mengapa Anda abaikan sifat fiksional dalam kita suci, kan itu belum faktual dan belum terjadi, dan Anda dituntun oleh dalil-dalil kita suci bukan secara prediksi”. Memang benar didalam Al-Qur’an itu ada sesuatu dan kejadian yang sudah terjadi dan belum terjadi, seperti soal terjadinya hari kiamat atau sejumlah peristiwa yang akan dialami oleh manusia di akhirat. Namun karena kitab suci Al-Qur’an itu adalah Wahyu Tuhan, Wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hal itu bukanlah sebuah ‘fiksi’.

Sebab, kitab suci  Al-Qur’an dengan berbagai kabar dan kisah didalamnya merupakan kabar dan kisah yang paling benar, yang tidak ada kebenaran dan keakuratan selainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?”. (QS. An-Nisaa’ 4 : 87)

Demikianlah apa kata Allah didalam Al-Qur’an, yang mana setiap Muslim harus dan wajib percaya bahwa segala sesuatu yang dikabarkan ada didalam Al-Qur’an dan belum terjadi, pasti akan terjadi. Jadi kitab suci Al-Qur’an tentu saja berbeda jauh sekali dengan kitab Babat Tanah Jawi, kisah Mahabharata, Talmud, dan bahkan Bibel sekalipun. Sebab semua kisah dan cerita yang ada didalam Al-Qur’an adalah benar dan paling baik lagi paling pas, karena menceritakan realita yang terjadi tanpa ada pengurangan dan penambahan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar”. (QS. Al-Kahfi 18 : 13)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu”. (QS. Yûsuf 12 : 3)

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Sesungguhnya (Al-Qur’an) ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak di ibadhi) selain Allah, dan sesungguhnya Allâh, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Ali ‘Imrân 3 : 62)

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) semuanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala sesungguhnya itu suci dari segala sifat dusta, sehingga tidak mungkin Allah mengabarkan sebuah informasi dan mengisahkan sejumlah kisah yang tidak akan terjadi ataupun fiksi. Allâh Azza wa Jalla juga Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Melihat serta menyaksikan semuanya. Oleh karena itu, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan satu kisah, berarti kisah itu benar dan diceritakan berdasarkan ilmu. Sehingga, jika ada seseorang yang menganggap bahwa isi Al-Qur’an itu adalah fiksi, maka hal itu adalah bentuk merendahkan Allah Ta’ala dan kalau dalam UU di Indonesia bisa masuk dalam kategori atau delik “Penodaan Agama” seperti yang dilakukan oleh Ahok.

Dan yang perlu diperingatkan kembali kepada kaum Muslimin adalah, hendaknya mereka berhati-hati dari ilmu filsafat (ilmu manthiq atau ilmu kalam) beserta para penganut dan pakarnya. Karena para penganut ilmu kalam (filsafat) adalah bagian dari ahlul ahwa wal bida’ (orang-orang yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan pelaku bid’ah, golongan menyimpang dalam Islam). Dan tentunya, didalam Islam itu hukumnya haram mempelajari ilmu filsafat melalui ilmu kalam (filsafat) dan para penganutnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa penggunaan ilmu filsafat sebagai salah satu dasar pengambilan hukum adalah karakter orang-orang mulhid dan ahli bid’ah. Karena itu, terdapat pernyataan ulama Salaf yang menghimbau umat agar iltizam dengan Al-Qur’ân dan Sunnah, dan memperingatkan umat dari bid’ah dan ilmu filsafat (ilmu kalam). (Majmû Fatâwa 7/119)

Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah juga berkata, “Sebab munculnya kesesatan ialah berpaling dari merenungi kalâmullâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan menyibukkan diri dengan teori-teori Yunani dan pemikiran-pemikiran yang macam-macam”. (Tahqiq Ahmad Syâkir rahimahullah hal. 176)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

لَأَنْ يَلْقَى اللَّهُ الْعَبْدَ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلَا الشِّرْكَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ بِشَيْءٍ مِن الْكَلَامِ

“Kalau seandainya Allah menemui seorang hamba dengan membawa dosa selain kesyirikan, itu lebih baik daripada menemuinya dengan sesuatu dari ilmu kalam”. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab). Wallahu A’lam..

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) semuanya, sebagai seorang Muslim, kita perlu meyakini bahwa seluruh isi Al-Qur’an, baik kisah dan kabarnya adalah nyata, baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Dan termasuk konsekuensi keimanan kepada Al-Qur’an meyakini bahwa seluruh apa yang dikabarkan Al-Qur’an adalah nyata dan pasti akan terjadi.

Dalam pro kontra soal pernyataan Rocky Geurng tentang kitab suci itu adalah fiksi, maka redaksi situs online Mata-Media.Com tidak berdiri dan berada di pihak yang pro maupun yang kontra dengan Rocky Gerung. Apakah Rocky Gerung melakukan penistaan dan penodaan terhadap agama, dalam hal ini agama Islam, maka umat Islam pada saat ini sudah semakin cerdas dan tentunya sudah bisa menilai sendiri.

Redaksi situs online Mata-Media.Com hanya berkewajiban untuk mendudukkan persoalan ini sesuai ilmu pengetahuan yang difahami dan berharap jika umat Islam tidak terombang-ambing dengan kepentingan sesaat para politisi untuk memenangkan percaturan politik Demokrasi di Indonesia yang mulai memanas akhir-akhir ini menjelang Pilkada serentak tahun 2018 maupun Pileg dan Pilpres tahun 2019 mendatang.

Sebab pada dasarnya dan realitanya, dan ini bukanlah sesuatu yang FIKTIF, bahwa selama sistem Demokrasi ini berkuasa dan diterapkan di Indonesia, umat Islam juga tidak mendapatkan hak-haknya yang semestinya, baik hak mendapatkan ekonomi yang layak, hak mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya, dan hak untuk menjalankan ajaran agama dan keyakinannya sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan tuntunan Rasul-Nya. Wallahu A’lam.. [Abd/Qut/Buy/dbs]

Check Also

UNESCO Akui Kurma Sebagai Warisan Budaya Dunia Arab

MADINAH (Mata-Media.Net) – Pengetahuan, tradisi dan praktik yang berkaitan dengan kurma telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan ...