Tuesday , October 15 2019
Home / Ragam / Analisa / Gempa 6,4 SR di Jatim & Bali Berbarengan dengan Acara LGBT “Miss Gaya Dewata 2018”, Azab Atau Kebetulan?

Gempa 6,4 SR di Jatim & Bali Berbarengan dengan Acara LGBT “Miss Gaya Dewata 2018”, Azab Atau Kebetulan?

DENPASAR (Mata-Media.Com) – Belum selesai duka dan luka warga masyarakat Indonesia akibat gempa bumi di Lombok dan Palu, kini gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah Jawa Timur (Jatim) dan Bali pada Kamis (11/10/2018) pukul 01.57 WIB.

“#Gempa Mag:6.4, 11-Oct-18 01:44:57 WIB, Lok:7.42 LS,114.47 BT (61 km TimurLaut SITUBONDO-JATIM), Kedlmn:10 Km, tdk berpotensi tsunami #BMKG https://t.co/FBRqLwPsSS,” cuit BMKG melalui akun Twitternya pada Kamis dini hari. (Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 6,4 SR Guncang Jawa Timur & Bali)

“#Gempa Mag:6.4, 11-Okt-18 01:44:57 WIB, Lok:7.42 LS, 114.47 BT (Pusat gempa berada di Laut 61 km TimurLaut Situbondo), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) III-IV Denpasar, III Karangkates, III Gianyar, III Lombok Barat, III Mataram, III Pandaan #BMKG https://t.co/F9PAvaLOzB,” lanjut cuitan BMKG.

Menariknya, gempa bumi di wilayah Jatim dan Bali itu terjadi berbarengan atau tidak lama setelah acara LGBT yang dibungkus dengan nama “Grand Final Pemilihan Mister dan Miss Gaya Dewata 2018” yang diselenggarakan Yayasan Gaya Dewata pada Rabu, 10 Oktober 2018.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali pun sudah menyatakan sikap penolakannya terhadap segala bentuk kegiatan yang mengatasnamakan LGBT (lesbian, gay/homo, biseksual dan transgender) di Indonesia dan Bali khususnya.

Ketua Umum (Ketum) MUI Provinsi Bali, Muhammad Taufik Asadi menyayangkan acara tersebut digelar di Bali. “Ini jelas sangat memprihatinkan, sebab tindakan tersebut jelas bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama di Indonesia,” kata Taufik secara tertulis pada Selasa (9/10/2018).

Taufik menegaskan, perilaku LGBT adalah menyimpang dan bertentangan dengan moral juga agama. Perilaku LGBT dalam Islam adalah dosa besar yang bisa mendatangkan azab dam murka Allah. Hukumnya ada beberapa pendapat. Pertama, pelaku dihukum dengan hukuman zina karena dianalogikan sama-sama melakukan hal yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dari jamaah dari kaum salaf dan khalaf, juga Imam Syafii.

Kedua, pelaku homoseksual dan yang homo itu dibunuh, baik keduanya itu muhshon atau sudah pernah menikah dan bersetubuh, atau ghairu muhshon (belum pernah menikah). Ini merupakan pendapat pendukung dan qaul qadim Asy-Syafii. Menurut sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadits, tindakan dosa besar wajib dihindari dan pelaku-pelakunya perlu dijatuhi hukuman.

Perilaku LGBT, sebut Taufik, juga bertentangan dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini juga bertentangan dengan Pasal 28 dan 29 Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga, segala bentuk kegiatan bermuatan menyimpang merupakan perilaku inskontitusional.

“Untuk menghindari terjadinya hal-hal tak diinginkan, seperti adanya pembubaran paksa atau konflik horizontal antarkelompok masyarakat, MUI Bali memohon kepada pemerintah, khususnya Kepolisian Daerah (Polda) Bali untuk melarang, membatalkan, dan membubarkan kegiatan tersebut,” kata Taufik.

Tak hanya MUI Provinsi Bali, Forum Peduli Keluarga mengecam perilaku LGBT. Mereka juga menolak keras kampanye LGBT melalui ajang Miss Gaya Dewata 2018 di Bali.

“Ini kegiatan yang mengiris-ngiris nurani dan hati setiap orang tua dan keluarga,” kata Ketua Forum Peduli Keluarga FHUI, Evi Risna Yanti dalam siaran pers pada Rabu (10/10/2018).

Senada dengan MUI Bali, Forum Peduli Keluarga menjelaskan bahwa perilaku dan acara LGBT bisa mendatangkan bencana dan azab dari Allah, sebab secara religi hal itu bertentangan dengan agama.

Pertanyaannya, apakah berbarengannya atau tidak berselang lamanya antara gempa bumi 6,4 SR yang mengguncang wilayah Jatim dan Bali dengan acara kampanye LGBT melalui ajang Miss Gaya Dewata 2018 di Bali itu merupakan sebuah azab atau hanya kebetulan saja??

Bagi seorang Muslim yang mau merenungkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentu saja sudah mendapat jawabannya. Yaa, perkara ghaib yang dikabarkan Al-Qur’an dan juga tentunya dikabarkan oleh Rasulullah divalidasi oleh Allah sebagai penjelas Al-Qur’an tentu harus kita yakini kebenarannya.

Kabar ghaib dari Allah dan Rasulullah adalah harga mati untuk diyakini. Karena Al-Qur’an memilki nilai ‘tanpa keraguan’ atau dengan kata lain ‘pasti benar’, 100% mutlak benar. Tentu lain masalahnya jika ada seorang Muslim atau manusia adalah orang yang tidak mempercayai bahwa Al-Qur’an adalah kalam ilahi dan menilai Al-Qur’an itu belum tentu benar. Jika ada yang demikian, silakan tutup halaman ini dan tidak ada yang perlu dibahas lagi.

Inilah yang harus menjadi modal berpikir setiap Muslim untuk menilai perkara yang dibahas kali ini. Sebab, Allah Ta’ala sudah berfirman didalam Al-Qur’an,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. Asy-Syuura 42 : 30)

Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga telah menceritakan keadaan umat-umat terdahulu,

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al-Ankabut 29 : 40)

Imam Ahmad rahimahullah menyebutkan dari Shafiyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

زلزلت المدينة على عهد عمر فقال : أيها الناس ، ما هذا ؟ ما أسرع ما أحدثتم . لئن عادت لا تجدوني فيها

Pernah terjadi gempa di kota Madinah, di zaman Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Maka Umar berceramah, “Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah”.

Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Lelaki ini bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!”. ‘Aisyah menjawab,

إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور ، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم

“Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamr (miras), bermain musik, maka Allah yang ada di atas akan cemburu. Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: ‘Berguncanglah, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, berhentilah. Jika tidak, hancurkan mereka’”.

Orang ini bertanya lagi, “Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?”. Beliau radhiyallahu ‘anha menjawab,

بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين ..

“Itu adalah peringatan dan rahmat bagi kaum Mukminin, serta hukuman, azab, dan murka untuk orang Kafir”.  (Al-Jawab Al-Kafi, halaman 87–88)

Dari pernyataan Umar, beliau memahami bahwa penyebab terjadinya gempa di Madinah adalah perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat yang tinggal di Madinah. Pernyataan ini disampaikan kepada para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pemahaman Umar radhiyallahu ‘anhu.

Lalu, bagaimana dengan gempa bumi yang akhir-akhir ini sering terjadi di negeri ini?? Semoga Anda semua sudah mendapatkan jawabannya dari uraian singkat diatas. [Abd/dbs]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...