Sunday , December 8 2019
Home / Ragam / Analisa / Melihat Lebih Kritis Video Pengakuan Terduga Teroris yang Hendak Serang Demo 22 Mei 2019 Versi Polisi

Melihat Lebih Kritis Video Pengakuan Terduga Teroris yang Hendak Serang Demo 22 Mei 2019 Versi Polisi

Oleh: Hanifiyah Media

(Mata-Media.Net) – Video propaganda ini muncul di warta berita setelah klaim Mabes Polri yang sukses menangkap 68 terduga teroris pada tahun ini yang kesemuanya dianggap hendak melakukan serangan pada tanggal 22 Mei 2019. Video pengakuan terduga teroris diungkap oleh polisi dan menayangkan cuplikan singkat dari pesan-pesan terduga teroris.

Namun, ada kejanggalan dan keanehan yang muncul dalam video singkat “pengakuan” terduga teroris kali ini.

Diantara kejanggalan dan keanehan yang paling mencolok adalah: mata terduga teroris ditutup oleh Polri dengan warna hitam dan pesan-pesan yang disampaikan oleh terduga terkesan tidak natural.

Seakan-akan ada hal yang ditutup-tutupi oleh Polri ketika menampilkan video pengakuan terduga teroris yang dituduh hendak melakukan amaliah pada puncak pesta demokrasi.

Ada beberapa poin krusial yang membuat masyarakat merasa janggal setelah munculnya video pengakuan terduga teroris yang ditayangkan oleh Polri, diantaranya:

Pertama, jika orang yang ada dalam video tersebut betul-betul teroris, mengapa wajah mereka perlu ditutup-tutupi?

Bukankah seorang teroris itu adalah orang-orang yang “berbahaya” menurut mereka, sehingga masyarakat juga perlu tau bagaimana ciri-ciri atau paras dari wajah mereka sehingga masyarakat bisa mengenalinya.

Kedua, mengapa bagian mata terduga teroris dalam video itu harus ditutup-tutupi dengan warna hitam?

Bukankah untuk mengetahui kejujuran ucapan seseorang itu dapat dikenali melalui penglihatan matanya, oleh karena itu masyarakat perlu melihat bagaimana sorotan mata para terduga teroris yang menyampaikan pengakuannya dalam video tersebut.

Atau, apakah ada teks dan skenario yang dibaca oleh orang yang dalam video tersebut, sehingga Polri merasa khawatir jika masyarakat mengetahui bahwa pengakuan terduga teroris tidak muncul dalam pikirannya, namun berdasarkan skenario yang dibuat-buat oleh Polri?

Ketiga, mengapa terduga teroris yang berbicara dalam video tersebut, seolah ragu-ragu, takut, gagap, cemas dan seakan berbicara di bawah tekanan ketika menyampaikan pengakuannya, bahwa mereka hendak melakukan aksi di puncak hari perayaan demokrasi?

Keempat, mengapa gesture dan roman wajah terduga teroris yang ada dalam video tersebut seolah-olah tidak natural, sehingga terduga teroris dalam video tersebut kerap kali menggerak-gerakkan alisnya ketika berbicara, kemudian menggigit-gigit bibirnya, lalu tersendat-sendat ketika berbicara.

Seolah-olah, apa yang mereka ucapkan dalam video tersebut bukan dari pikirannya dan seakan-akan mereka mereka hendak mengatakan, “Ini bukan kata-kata saya dan saya dipaksa. Saya tidak mau mengatakan ini, namun jika saya tidak mengatakan ini, maka saya akan bla… bla… bla…”

Kelima, umumnya aksi terorisme yang ada di Indonesia adalah dengan menggunakan pistol atau dengan aksi istisyhadi. Namun, kali ini mereka dianggap lebih pintar dari yang pernah ada.

Dalam pengakuannya, sebagaimana yang muncul dalam video, terduga teroris hendak melakukan amaliah dengan meledakkan bom dan dengan menggunakan remote.

Cara ini terbilang baru dan belum pernah ada dalam sejarah terorisme di Indonesia.

Keenam, selama ini teroris di Indonesia dikenal sebagai musuhnya Polri, namun kali ini mereka digambarkan oleh Polisi seakan-akan menjadi musuhnya masyarakat umum. Sehingga mereka disebut-sebut hendak melakukan serangan terhadap massa yang hadir dalam puncak pengumuman pemenang dalam Pilpres 2019.

Secara logika, target terduga teroris kali ini jauh dari ideal. Karena, target mereka hanyalah kerumunan massa, bakan aparat. Sedangkan Polri sendiri telah mengakui, bahwa musuh bagi teroris selama ini adalah Polisi. Karena Polisi kerap kali melakukan penangkapan dan perbuatan kejam terhadap terduga teroris dan keluarga mereka.

Oleh karena itu, apa benefit–nya bagi terduga teroris itu untuk melakukan serangan terhadap masyarakat di pucak pesta demokrasi?

Terlebih, pesta demokrasi pada tahun ini telah dianggap pincang dan curang oleh banyak pihak, karenanya masyarakat banyak yang merencakan demo besar-besaran untuk melawan atau menggulingkan pemerintah. Bukankah hal ini oleh Polri dianggap sebagai tujuan yang sangat diharapkan oleh “teroris”?

Jika demikian, tentu para terduga “teroris” merasa tidak perlu untuk turun tangan dalam upaya melengserkan pemerintah, karena masyarakat sendiri sudah benci kepada pemerintah.

Ataukah Polri yang sebenarnya takut kepada rakyat, jika mereka mengamuk ketika kecewa menyaksikan hasil pengumuman pemenang Pilpres?

Bersamaan dengan itu, Polri juga mengumumkan himbauannya agar masyarakat tidak turun ke jalan dalam pengumuman pemenang ini, dikarenakan mereka akan menjadi target bagi teroris.

Padahal, sejauh ini, masyarakat di Indonesia sudah sangat faham betul, bahwa “teroris” yang pernah melakukan amaliah di Indonesia tidak pernah menargetkan masyarakat secara umum.

Faktanya adalah sebagaimana dalam peristiwa baku tembak dan peledakan pos polisi di depan Mall Thamrin beberapa tahun yang lalu. Ada banyak sekali masyarakat yang menonton di pinggir jalan, untuk menyaksikan baku tembak antara sejumlah ikhwah dengan anggota Polisi.

Dalam baku tembak yang disaksikan oleh masyarakat umum dan di jalanan umum, tidak satupun warga yang terluka. Justeru anggota Polisi yang banyak meregang nyawa.

Ketujuh, diantara kejanggalan lainnya yang muncul dalam video ini adalah, bahasa yang digunakan oleh terduga “teroris” terkesan tidak natural dan tidak sesuai dengan alur pembicaraan.

Para terduga teroris berbicara dengan alur yang tidak saling terhubung pada setiap kalimatnya. Pertama-tama, mereka berbicara bahwa mereka akan melakukan serangan pada tanggal 22 Mei, karena hari itu adalah hari pengumuman pemenang Pilpres. Lalu mereka mengatakan alasan aksi itu adalah karena Pemilu itu syirik, itu menurut keyakinan mereka. Oleh karena itu, mereka akan menarget massa sebagai sasarannya dan mereka akan menggunakan remote, hal ini dilakukan sebagai sikap baro’ (berlepas diri) mereka dalam pesta demokrasi.

Pengakuan ini sangat logis, tidak natural dan tidak memiliki keterkaiatan antara aksi dan reaksi. Oleh karena itu, dapat dikatakan, bahwa pengakuan terduga teroris dibuat oleh orang yang tidak faham cara berfikir kelompok mereka.

Pengakuan terduga teroris itu tidaklah seperti apa yang selama ini kita kenal. Sejauh ini, orang-orang yang disebut oleh rezim sebagai “teroris” adalah orang-orang yang menginginkan tegaknya Negara Islam dan Syari’at Islam di Indonesia. Umumnya mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pintar, serta memiliki target prioritas yang bernilai dan efektif untuk dapat mencapai tujuannya dengan segera.

Jika mereka menyebut pemilu itu syirik, tentu mereka akan mengganggu proses pemilu, bukan hasil pemilu.

Jika mereka tidak setuju kepada pesta pemilu, tentu mereka akan menargetkan penyelenggara pemilu, dalam hal ini adalah aparat dan rezim.

Jika mereka meyakini pemilu itu bertentangan dengan dirinya, tentu mereka tidak keberatan untuk mengumumkan alasan-alasannya, misalnya dalil-dalilnya.

Jika mereka hendak bersikap baro’ (berlepas diri) atas pesta demokrasi, tentu mereka akan menyerang rezim yang menggunakan sistem demokrasi itu sendiri dan bukan massa yang menjadi objek penindasan rezim yang menggunakan sistem demokrasi.

Jika mereka hendak menargetkan massa, tentu ini sangat bertentangan dengan kayakinan mereka sendiri. Sebab, mereka telah menyatakan bahwa pemilu adalah syirik, oleh karena itu mereka tentu akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan masyarakat agar tidak jatuh kepada perbuatan syirik demokrasi dan berusaha menyelamatkan mereka dari penindasan rezim yang menggunakan sistem syirik demokrasi.

Jika mereka hendak melakukan serangan dengan menggunakan remote, maka ini bukanlah cara-cara mereka untuk melakukan aksi. Sebab, selama ini kita mengenal mereka yang disebut-sebut “teroris” oleh Polisi, adalah orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai mujahid dan mencari mati syahid, bukan orang yang takut mati. Sehingga, mereka tentu akan meninggalkan penggunaan remote control, karena itu akan menjauhkan mereka dari mendapatkan mati syahid.

Pemerintah unjuk kekuatan sebelum pengumuman pesta demokrasi

Kejanggalan demi kejanggalam pun semakin bertambah, khususnya kemunculan video tentang pengakuan terduga “teroris” yang dirilis Polri ini datang setelah rezim mengerahkan sejumlah kekuatan militernya di hadapan publik.

Perlu diingat pula, bahwa sebelumnya sudah ada wacara pemerintah untuk menurunkan ribuan personel gabungan TNI-Polri ke ibukota pada saat pengumuman pemenang hasil Pilpres.

Dalam informasi yang beredar di berbagai media, dikabarkan akan ada 32.000 personil yang akan dikerahkan sejak 2 hari sebelum perayaan pengumuman hasil Pilpres. Tujuannya adalah untuk mengamankan keadaan.

Meskipun, sejuah ini keadaan ibukota masih dalam keadaan sangat kondusif, jika ditinjau dari segi seberapa besar ancaman kudeta terhadap pemerintah dari lawan politik.

Lalu, apa tujuan Polri menyampaikan himbauan kepada masyarakat agar tidak turun ke jalan saat pengumuman pemenang Pilpres 2019 dan setelah melakukan unjuk kekuatan perangkat militer besar-besaran di hadapan publik?

Apakah Polri hendak meredam kemungkinan kerusuhan dalam pengumuman Pilpres tahun ini dengan menakut-nakuti rakyat, karena Polri khawatir akan terjadi kekacauan di ibukota?

Prediksi terhadap hal ini tentu bukan tanpa alasan, pasalnya dalam Pilpres kali ini telah ditemui banyak kecurangan dan kejahatan politik, sehingga membuat berbagai pihak berburuk sangka kepada pemerintah.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa ada banyak sekali kasus-kasus kecurangan pada pesta pemilu tahun ini.

Dan diantara kecurangan yang tidak berujung pada penyelesaian adalah kecurangan pada input data suara dari hasil pemilu, namun disebut oleh perangkat rezim sebagai tindak kesalahan input.

Selain itu, ada pula kotak suara yang tidak bersih (sudah dicoblos oleh perangkat desa), maraknya suap sebelum jadwal pemilihan dan adanya kasus surat suara yang dibakar dalam jumlah besar di Sumatera.

Meredam amarah rakyat yang hendak turun ke jalan dengan unjuk kekuatan militer

Keputusan ini tentu tidak muncul melainkan adanya pertimbangan khusus. Sebab, jika tidak, mengapa perlu menurunkan personil sebanyak 32.000 anggota, hanya untuk mengamankan pengumuman pemenang Pilpres tahun 2019?

Pada saat yang sama, pemerintah sudah melalukan show of force beberapa waktu lalu di hadapan masyarakat Indonesia. Yaitu dengan mengerahkan sejumlah personel, barracuda, sejumlah jenis persenjataan dan mekanisme tempur. Seakan-akan, Indonesia hendak menghadapi pertempuran besar melawan musuh yang memiliki kekuatan militer yang hebat dan akan mengambil alih ibukota.

Di sisi lain lain, beredar pula video tentang desakan Habib Rizieq kepada masyarakat Indonesia untuk melakukan “jihad” total dalam rangka melawan kecurangan pemilu.

Hal yang sama pun dilakukan oleh FUI, namun dengan melakukan demo di depan kantor Bawaslu Jawa Timur, di Jalan Tanggulangin, Surabaya. Dalam demo tersebut mereka menyatakan telah menolak hasil pemilu 2019.

Sekertaris FPI Jatim mengatakan, bahwa dalam Pilpres kali ini banyak didapati DPT ganda, invalid dan manipulatif.

Selain itu, didapati pula ratusan ribu amplop untuk “serangan fajar” (dalam rangka suap) dan adanya surat suara yang sudah dicoblos untuk salah satu calon presiden.

Ia mengatakan, “Surat suara dicoblos oleh petugas dan kepala desa,” ungkapnya di sela-sela aksi demo pada Jum’at (17/5/19).

Tidak sedikit kalangan menilai, bahwa pergerakan perangkat militer Indonesia baru-baru ini adalah untuk unjuk kekuatan dan dalam rangka untuk menakut-nakuti rakyat yang berani melawan kebijakan pemerintah.

Hal ini pun disusul dengan desakan petinggi kepolisian Indonesia agar masyarakat tidak turun ke jalan pada hari pengumuman pemenang Pilpres, dengan alasan akan ada serangan teroris.

Kepala Divisi Humas Polri mengatakan, “Saya selaku Kepala Divisi Humas juga sebagai juru bicara menyampaikan bahwa pada tanggap 22 Mei masyarakat kami imbau tidak turun. Ini akan membahayakan, karena mereka akan menyerang massa, termasuk aparat,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen M. Iqbal di Mabel Polri, Jakarta Selatan pada Jum’at (17/5/19).

Sandiwara Mabes Polri untuk pengalihan isu atas kebobrokan rezim yang kian memburuk

Pengumuman hasil pemilu 2019 tinggal menghitung hari. Awalnya, pesta pemilu di tahun ini dianggap akan membawa banyak perubahan bagi Indonesia ke arah yang lebih baik. Namun, realitas yang muncul akhir-akhir ini menunjukkan, bahwa harapan itu akan semakin jauh dari kenyataan.

Terlebih, kecurangan demi kecurangan pun banyak terjadi pada berbagai sektor dan rezim cenderung menyikapi masalah ketidak-adilan ini dengan cara-cara yang tidak jujur dan dengan cara-cara yang represif.

Berbagai cara pun ditempuh untuk meredam kekecewaan masyarakat Indonesia yang mulai muak atas tindak-tanduk rezim. Baik dengan menakut-nakuti masyarakat melalui diterjunkannya perangkat militer, hingga dimunculkannya ancama teroris yang menyasar massa di hari pengumuman pemenang Pilpres.

Rezim pun berusaha mengalihkan isu tentang pemberitaan kecurangan dalam Pilpres melalui adegan penangkapan terduga teroris di berbagai tempat di Indonesia.

Cara ini memang dikenal sudah jadul, namun sampai hari ini masih terbilang efektif untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap tindak-tanduk kriminal yang dilakukan oleh rezim.

Mulai dari kasus korupsi, kenaikan harga BBM yang tidak rasional dan kasus apa saja yang terkait dengan ketidak-adilah rezim. Isu-isu tersebut mudah lenyap dengan dimunculkannya propaganda tentang bahaya terorisme di Indonesia.

Publik tentu masih ingat tentang kekacauan yang muncul akibat kebijakan kenaikan BBM dan PLN yang terjadi 3 kali berturut-turut dalam setahun. Rakyat pun dibuat bingung dan marah.

Namun, kegeraman masyarakat pun dapat diredam dengan cepat dengan munculnya isu-isu tentang terorisme dan pertunjukan penangkapan teroris di berbagai tempat.

Pada sejumlah kasus suap dan korupsi yang terjadi di lingkungan pejabat, banyak pula yang ditenggelamkan dengan adanya isu terorisme yang dimunculkan oleh media.

Masyarakat akhirnya dibuat lupa, sehingga mereka tidak lagi peduli dengan kasus-kasus korupsi yang belum terungkap dan ketidak-adilah rezim yang belum mencapai titik penyelesaian.

Hari ini, metode pengalihan isu pun kembali dimainkan oleh rezim, dengan cara yang sama, yaitu dengan isu-isu terorisme.

Bahkan, kali ini rezim berupaya untuk menakut-nakuti rakyat akan adanya serangan para “teroris” pada hari pengumuman pemenang Pilpres dan akan menyerang massa secara serampangan.

Meskipun, hal ini dapat dikatakan sangat tidak mungkin, karena sejuah ini terduga teroris di Indonesia dikenal sebagai musuhnya TNI-Polri, bukan rakyat.

Apakah rezim sudah mengetahui, bahwa akan ada kekuatan besar yang akan menyingkap kecurangan rezim selama ini?

Mungkinkah upaya pengalihan isu pada hasil pemilu di tahun ini dapat mencegah kegeraman rakyat atas tindak kecurangan rezim saat ini? [MMC]

Check Also

Tentara Saudi Tembaki Pangkalan Militer AS di Florida, Tewaskan & Lukai 11 Tentara

FLORIDA (Mata-Media.Net) – Sebanyak 11 tentara Amerika Serikat (AS) tewas dan terluka ketika seorang tentara ...