Tuesday , August 20 2019
Home / Ragam / Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Rambu-Rambu Penting – 3)

Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Rambu-Rambu Penting – 3)

Oleh: Muharib Al-Qahtany

(Mata-Media.Com) – Dalam setiap pertempuran selalu terdapat rambu-rambu yang bertujuan agar para mujahid selalu berhati-hati dalam menahan derasnya serangan musuh. Begitu juga dalam pertempuran media, di mana para ksatria media dituntut untuk mengetahui rambu-rambu dalam pertempuran media tersebut. Dan diantara rambu-rambu terpenting dalam pertempuran media adalah :

  1. AMNIYAH

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama”. (QS. An-Nisa 4 : 71)

Ayat diatas memerintahkan kepada kaum Muslimim untuk selalu berhati-hati dan waspada dalam menghadapi musuh, begitu juga dalam perkara media. Sungguh miris sekali banyak ikhwah mujahid yang tertangkap karena kurang amniyah. Maka hal ini adalah perkara yang wajib diketahui dan dijalankan oleh para mujahid media agar keberlangsungan jihad media ini tetap berlangsung.

Prinsip amniyah merupakan keniscayaan dalam keberlangsungan jihad terutama dalam bidang media dengan aspek-aspek yang terus berkembang. Diantaranya: (Baca: Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Engkau Mujahid Wahai Awak Media – 1)

– Keselamatan anggota dan pimpinan Amniyah Qiyadah

“Keselamatan pucuk pimpinan” setidaknya telah kita lihat jelas pada perang Badar, di mana Sa’ad radhiyallahu ‘anhu yang mengusulkan pembuatan tenda khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, tata cara shalat di medan perang juga diatur secara tersendiri dalam kondisi ini. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memastikan keamanan jama’ah dalam perang, sekalipun itu dalam sebuah ibadah fardhu.

– Keselamatan dokumen

Demi menjaga strategi-strategi penyebaran media, sepatutnya kita memperhatikan hal-hal dalam jama’ah yang harus dirahasiakan demi maslahat yang lebih besar untuk keberlangsungan jihad media itu sendiri. Hal ini jelas terlihat ketika kaum Muslimin hendak melakukan Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) -setelah orang Quraisy merusak perjanjian-, di mana seorang ahli Badar bernama Hatib bin Abi Balta’ah membocorkan rahasia penaklukan kota Makkah kepada kaum Quraisy melalui surat yang dibawa oleh seorang wanita. Akan tetapi, Rasulullah menerima wahyu tentang apa yang dilakukan Hatib dan beliau mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu untuk mengejar wanita tersebut. Jikalau bukan karena kegigihannya dalam membela Islam sebelumnya, dan karena jaminan Allah terhadap pasukan Badar, niscaya ia pantas dihukum mati. Berkaitan dengan apa yang dilakukan Hatib ini, Allah menyinggungnya dalam Qur’an surah Al-Mumtahanah ayat satu (1).

Ada beberapa unsur utama dalam prinsip amniyah ini. Diantaranya: (Baca: Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Persiapan Bagi Mujahidin Media – 2)

– Siriyyah (Merahasiakan)

Dalam memberikan keamanan data media dan agar kebenaran ini tetap berkesinambungan, Islam mengajarkan kepada pengikutnya untuk siriyyah agar tidak mudah diberangus dan dihancurkan. Berkaitan dengan hal ini, Allah telah mengabarkan kepada segenap kaum Muslimin perihal besarnya tipu daya musuh Islam. Allah berfirman:

وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya”. (QS. Ibrahim 14 : 46)

Ooleh karena itu, merahasiakan hal-hal yang berkaitan dengan media adalah hal yang sangat urgent dan penting bagi para mujahid media. Hendaknya para mujahid media tidak menyebutkan tentang apa yang akan dilakukan, perannya, tujuan dan motifnya dalam perang media ini. Tidak membahasnya dalam forum-forum online demi menjaga keamanan media itu sendiri kecuali dengan prosedur yang sesuai standar keamanan forum online seperti yang pernah dirilis di KDI Media sebelumnya perihal keamanan internet.

Bahkan para mujahid media juga dituntut menjaga rahasia dari istri, saudara atau bahkan teman dekatnya, karena hal ini akan melatih mujahid media untuk tetap menyimpan misi-misinya dan menjaga kemurniaan amalan.

– Tamwih (Penyamaran)

Peristiwa hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah adalah dalil yang paling kuat atas legalitas Tamwih dalam Islam. Seandainya tidak ada peristiwa lain yang memperkuat legalitas Tamwih, niscaya peristiwa ini telah cukup untuk menjelaskan pentingnya penyamaran dalam kondisi tertentu sebagai salah satu unsur amniyah.

Begitu juga bagi para mujahid media, maka Tamwih juga unsur terpenting didalamnya dan hendaknya para mujahid media melakukan penyamaran dengan hal-hal yang baik dan tidak mencolok.

Bahkan dalam salah satu kelompok mujahid media harus ada orang yang selalu melakukan penyamaran dalam dunia maya untuk dapat memperoleh informasi yang cukup dan menentukan bagaimana dan pola media yang dapat di produksi untuk dapat melakukan serangan balik terhadap musuh di media, hingga membuat musuh terkejut dan terheran-heran dibuatnya.

Dan hendaknya para mujahid media harus selalu melakukan penyamaran baik ketika berpergian atau sedang dalam sebuah ruangan yang terdapat banyak orang. Gunakanlah selalu prinsip “zero” dalam artian jangan sampai orang lain menganggap Anda adalah orang yang paham dengan media dan lainnya. Istilah lebih mudah dipahami adalah pura-pura bodoh.

– Ar-Rashdu (Pemantauan)

Penugasan terhadap Abdullah bin Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk memantau perkembangan yang ada di suku Quraisy bukanlah proses khusus bagi tahapan atau kondisi tertentu. Akan tetapi pemantauan adalah strategi yang harus dilakukan dalam kondisi apa pun.

Sebagai pimpinan tertinggi, Rasulullah ingin mengetahui semua yang berkembang di sekitarnya yang berkaitan dengan dirinya secara pribadi, ataupun yang berkaitan dengan kelangsungan dakwah dan kaum Muslimin untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan menggagalkan setiap tipu daya yang akan dilancarkan musuh-musuh Islam.

Hal ini berlaku juga kepada para mujahid media. Hendaknya para mujahid media selalu memantau pergerakan musuh, isu-isu apa saja yang sedang berkembang dan terus mencari kelemahan musuh. Disamping itu juga dituntut untuk mendapatkan informasi tentang sejauh mana musuh mengetahui kelemahan kita, agar kelak kita dapat mengetahui pencegahan-pencegahan apa saja yang dapat kita lakukan.

  1. MENGANGKAT AMIR (PEMIMPIN MEDIA)

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisaa’ 4 : 59)

Rasulullah juga bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada amirku (yang Muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku”. (HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33), Ibnu Majah (no. 2859) dan an-Nasa-i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511)

Sisi ketaatan dalam hal ini bahwasanya Amir atau pemimpin media mendistribusikan atau memberikan peran-peran kepada pada awak media yang dia pimpin, dan menekankan kepada mereka agar senantiasa menaati Amir.

Dalam berjihad di bidang media ini juga harus ada Amir untuk lebih mudah memberikan arahan, mengontrol dan memiliki tujuan serta kinerja yang jelas. Tugas Amir salah satunya juga memberikan peran kepada salah satu anggotanya sebagai tempat rujukan (syar’i) yang memiliki pandangan dan ilmu dalam masalah syariat Islam. Tujuanya adalah agar ada kontrol dalam masalah produksi media dan agar tidak keluar dari kaidah-kaidah dien ini.

Adanya Amir ini sangat penting hingga media yang diproduksi mampu untuk memahamkan umat dengan dalil-dalil yang mantap sehingga umat merasa jelas dan terang terhadap penjelasan yang diberikan oleh media tersebut. Disamping itu juga untuk menepis tuduhan-tuduhan dusta dari musuh-musuh Allah yang berupa ulama suu’ (buruk dan jahat) yang menggunakan dalil seenaknya sendiri.

  1. MEMASTIKAN KEBENARAN INFORMASI (DATA)

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat 49 : 6)

Termasuk sikap orang yang jujur dan terpercaya adalah memastikan kebenaran suatu informasi sebelum menyebarkannya dan menjadikannya sebagai pijakan dalam mengambil sikap dan keputusan yang tepat tentangnya. Hal ini sangat penting supaya tidak ada penyesalan nantinya.

Penyesalan disini menjadi salah satu akibat dari kedzaliman orang lain. Kedzaliman itu biasanya muncul akibat sikap bodoh dan terburu-buru seseorang tanpa mengambil kesempatan sedikitpun untuk memastikan sebuah informasi dan memeriksa kebenaran pembawanya, baik dalam hal kejujurannya, bagaimana ketakwaan dan loyalitasnya.

Hal ini perlu dilakukan karena banyak dari para mujahid media yang terkadang terburu-buru menyampaikan sebuah berita tanpa melakukan tabayun atau mengkroscek kebenaran berita tersebut, sehingga jika kabar yang dipublikasikan tersebut berisi kabar dusta, maka kepercayaan para umat terhadap mujahid mediapun dapat berkurang. Maka dari itu, media dan tabayun adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dan berhati-hatilah dalam rambu-rambu ini.

  1. BERKATA BENAR

Allah berfirman :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (QS. Al-Mumtahanah 60 : 4)

Rasulullah bersabda,

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةَ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sesungguhnya jihad yang paling agung adalah ungkapan yang adil (benar) yang disampaikan dihadapan penguasa yang dzalim”. (HR. Tirmidzi 2100)

Mujahid media yang beriman harus berkata yang adil dan benar di zaman ini karena didalamnya ahlul haq dan orang-orang yang jujur itu sedikit yang menunjukan gambaran yang sebenarnya dalam pertempuran ataupun kenyataan sebenarnya, serta tidak melebih-lebihkan didalamnya atau didustakan hal itu karena salah satu sebab taat kepada Allah.

Allah berfirman :

  فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ (٣٢) وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (٣٣) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ  (٣٤) لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah dan mendustakan kebenaran yang datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang Kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Agar Allah menghapus perbuatan mereka yang paling buruk yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan”. (QS. Az-Zumar 39 : 32-35)

Dan hal itu mengikuti Rasulullah yang mana beliau bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ فَاِنَّ الصّدْقَ يَهْدِىاِلىَ اْلبِرّ وَ اِنَّ اْلبِرَّ يَهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَتَحَرَّى الصّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدّيْقًا. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَ يَتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا.

“Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan sesungguhnya durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR. Muslim juz 4, hal. 2013)

Pada saat ini kedustaan telah merebak dan juga pemalsuan telah merajalela. Sebagian besar media-media yang kita kenal dan jurnalis-jurnalis mereka juga seperti ridho terhadap kedustaan, kepalsuan, kekafiran bahkan memerangi mujahidin, maka mereka lebih berhak mendapat julukan tukang sihir Fir’aun.

Sesungguhnya ini adalah zaman Ghurbah atau keterasingan yang mana banyak orang berbicara dengan menggunakan logika dan hawa nafsu serta meninggalkan dalil.

Rasulullah bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas”. (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah)

Tak heran jika kita menjumpai para ulama-ulama suu’ yang berdusta dan menipu umat untuk menutupi fakta kebenaran yang sebenarnya dari al-Haq itu sendiri. Telah juga kita saksikan sendiri bagaimana banyaknya kaum Ruwaibidhah itu hingga seolah-olah setiap orang berfatwa atas ilmu yang tidak mereka miliki. Belum lagi penipuan media yang selalu menampakan kedustaan yang menggambarkan kaum mujahidin itu sebagai monster yang menakutkan.

Maka sebab itu wahai para mujahid media, berkata jujur merupakan pilar terpenting dalam perang media ini agar kita dapat menyelisihi orang Kafir itu dengan semua kedustaan yang mereka bawa. Jangan pernah kalian takut, karena sesungguhnya Allah akan selalu bersama orang yang menolong agama-Nya. [RMC/kdi/Bersambung]

Check Also

Bersegera Menyambut Imam Mahdi Walau Merangkak Diatas Salju

Oleh: Furqon (Mata-Media.Net) – Pada akhir zaman nanti, akan ada seorang pemimpin bagi umat Islam ...