Tuesday , October 15 2019
Home / Galeri / Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Jangan Puas dengan Medsos Semata – 4)

Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Jangan Puas dengan Medsos Semata – 4)

Oleh: Abdurrahman

(Mata-Media.Com) – Salah satu perang yang saat ini terjadi antara kubu Iman dan Kufur beserta antek-anteknya dari kalangan Murtaddin, Musyrikin dan Munafiqin tidak hanya secara fisik semata, namun juga perang dalam ranah propaganda (perang media massa atau mass media).

Perang propaganda dan media sebenarnya sudah terjadi pada zaman Nabi kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada hakikatnya, perang propaganda dan media antara kubu Iman dan Kufur itu tetaplah sama dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir zaman nanti. Yakni meningkatkan dan melemahkan semangat juang serrta untuk menceraiberaikan barisan musuh, entah itu di kubu kaum Muslimin maupun kaum Kafirin. Akan tetapi dengan seiring berjalannya waktu, maka pelaku dan alat peperangan media itu akan terus berganti dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا

“Kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang. Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang Kafir itu. Allah sangat besar kekuatanNya dan sangat keras siksaNya”.  (QS An-Nisaa’ 4 : 84)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ حَرِّضِ ٱلْمُؤْمِنِينَ عَلَى ٱلْقِتَالِ ۚ إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَٰبِرُونَ يَغْلِبُوا۟ مِا۟ئَتَيْنِ ۚ وَإِن يَكُن مِّنكُم مِّا۟ئَةٌ يَغْلِبُوٓا۟ أَلْفًا مِّنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang”. (QS. Al-Anfal 8 : 65)

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) semuanya, sejarah atau sirah tentang peperangan media dan propaganda yang dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum juga bisa kita baca dan telaah dalam sejumlah kitab Sirah Nabawiyyah atau Sirah Shahabah. Salah satu bentuk peperangan media dan propaganda yang terkenal adalah ketika terjadinya Perang Uhud dan juga Perang Khandaq. Selain melakukan front secara fisik, dalam sejarah terjadinya dua (2) peperangan tersebut juga diwarnai dengan adanya perang propaganda dari kedua kubu, yaitu antara kubu Rasulullah dan kaum Muslimin melawan kubu Kafir Quraisy dan kaum Yahudi di kota Madinah.

Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu, perang propaganda dan media hanya terjadi melalui mulut, selebaran serta surat semata, dan juga perang intelegensi antar kedua kubu untuk mencari kelemahan dan sejauh mana kekuatan lawan dalam mempersiapkan perang. Di kubu Iman, perang media dan propaganda tersebut dilakukan untuk meninggikan kalimat dan cahaya Allah, sedangkan di kubu Kafir hal itu dimaksudkan untuk memadamkan cahaya Allah. Allah Ta’ala berfirman,

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [الصف :8

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Ash-Shaff 61 : 8)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menegaskan pula,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [التوبة : 32]

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang Kafir tidak menyukai”. (QS. At-Taubah 9 : 32)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, orang-orang Kafir yaitu Musyrikin Quraisy dan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) ingin memadamkan cahaya agama Allah, artinya ingin memadamkan risalah dan dakwah yang dibawa oleh Rasulullah, yaitu petunjuk dan agama yang haq (benar). Orang-orang Kafir ingin memadamkan cahaya Islam itu dengan bantahan-bantahan dan kebohongan-kebohongan yang mereka lontarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin. Maka, perumpamaan upaya orang-orang Kafir itu seperti orang yang ingin memadamkan sinar matahari atau cahaya rembulan dengan cara meniupnya, namun hal itu tidak akan mungkin bisa terjadi. Demikian juga seruan dan dakwah Rasulullah pastilah akan sempurna dan tampak meskipun Orang-orang Kafir selalu mencaci dan merintangi.

Apakah dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad itu keras dan kasar sehingga tidak mereka terima? Tidak. Bahkan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu begitu santun dan lemah lembut, namun tegas dan tidak kenal kompromi. Akan tetapi, sesantun dan selembut apapun jika yang disampaikan itu adalah tentang Tauhid dan Syirik, maka orang-orang Kafir dan Munafiq itu tidak akan mau menerimanya, membencinya dan bahkan akan memusuhinya. Inilah hakikat dakwah dan perang media dari zaman Nabi hingga saat ini.

Namun pada saat ini, perang media dan propaganda tidak hanya terjadi dengan mulut dan secarik kertas (selebaran dan surat) saja, akan tetapi sudah berkembang begitu luas seiring dengan pesatnya sarana informasi dan teknologi (IT), yakni dengan adanya media massa.

Dalam konteks kekinian, ada beberapa macam media massa yang sudah diketahui dan dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat, mulai dari media cetak, media elektronik, media online (medon) dan media sosial (medsos) atau sosial media (sosmed).

Bentuk media cetak adalah seperti koran, majalah, buletin, pamflet, papan reklame dan lain sebagainya. Media elektronik bentuknya seperti televisi (TV) radio, videotron dan lainnya. Sedangkan media online betuknya adalah website (situs online), blog dan sebagainya. Sementara itu, medsos atau sosmed kita pisahkan sendiri dari media online karena sekarang ini juga sudah menjamur ditengah-tengah masyarakat dan mempunyai peran penting untuk sarana dakwah dan perang media seperti Facebook (FB), Youtube, Twitter, Google+, Instagram (IG), Channel dan Grup Telegram (Tele), Grup dan Siaran WhatsApp (WA) dan lain sebagainya.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) semuanya, dari semua sarana media massa itu, pada saat ini semua orang yang memiliki akun media sosial bisa ikut dalam perang kata-kata, perang pembenaran diri, perang mempertaruhkan jati diri dan perang pengetahuan. Ada kaum intelektual, kaum rohaniawan, kaum politik dan lain sebagainya yang berdebat di setiap status atau informasi tentang segala issue dan peristiwa yang terjadi. (Baca: Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Engkau Mujahid Wahai Awak Media – 1)

Bahkan sudah bukan rahasia, kemenangan beberapa pemimpin dunia, salah satunya di Indonesia, tidak bisa lepas dari perang Buzzer. Buzzer adalah pasukan online yang tujuannya menyebar citra positif salah seorang calon pemimpin dan tokoh. (Baca: Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Persiapan Bagi Mujahidin Media – 2)

Propaganda dan media massa memang tak bisa terpisahkan, lewat media massa inilah kemudian propaganda bisa terlaksana dengan baik terlepas itu oleh media audio, visual, ataupun audio visual. (Baca: Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Rambu-Rambu Penting – 3)

Media massa memang memiliki pengaruh yang sangat sentral dalam pembentukan opini publik sehingga dalam hal ini, informasi yang diberikan dapat mempengaruhi keadaan komunikasi sosial pada masyarakat. Masyarakat yang tidak tahu apa-apa banyak yang menelan mentah-mentah berbagai informasi yang diberitakan pada sebuah media, padahal disisi lain berita tersebut ada kemungkinan memiliki ketimpangan yang harus diverifikasi kebenarannya.

Berbagai informasi yang kemudian masuk tanpa mengindahkan sisi objektivitas itulah yang kemudian menjadi permasalahan. PROPAGANDA YANG TAK BERIMBANG tentunya memiliki kepentingan-kepentingan yang biasanya berkenaan dengan kepentingan politik atau ideologi, bertujuan untuk menjatuhkan figur atau tokoh-tokoh tertentu dan berusaha menaikan pamor tokoh tertentu.

Salah satu contohnya adalah dalam fenomena kebangkitan Daulah Islamiyyah atau Khilafah Islamiyyah. Media Kafir dan Sekuler serta pembenci Daulah Islamiyyah dari kalangan Munafiq bergotong royong memuat citra buruk Daulah dengan sarana media yang begitu dahsyat dan luas penyebarannya, mulai dari TV, radio, media online hingga medsos. Sedangkan para penyampai kebenaran tentang Daulah Islamiyyah hanya bermodalkan medsos semata, dan akun-akun medsos itupun tak bertahan lama karena banyak yang akhirnya diblokir atau dibanned. Kalaupun ada yang bergerak di bidang media online (website), tidak juga dikelola dengan baik dan profesional. Maka dengan situasi dan kondisi seperti itu, perang propaganda menjadi tidak berimbang.

Sebagai gambaran lainnya adalah ketika Pemilu berlangsung, para kontestan dengan menggunakan media berusaha mepromosikan dirinya melalui partai yang mengusungnya. Dengan begitu mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapat simpati masyarakat sehingga banyak yang memilih.

Kemudian untuk memperoleh suara yang banyak, tak sedikit diantara mereka yang melakukan praktik Black Propaganda, menggunakan cara-cara yang licik dengan menghasut dan mengadu domba. Tak ayal dengan propaganda jenis ini terbersit sebuah istilah “lempar batu sembunyi tangan”.

Pelaksanaan Pemilu, apalagi dalam sistem Demokrasi yang sudah sangat rusak tersebut memang rawan dengan berbagai kegiatan propaganda utamanya yang berbau negatif. Segala cara yang bisa ditempuh digunakan demi memenangkan pemilihan terlepas dengan jalur yang terhormat (positif) dan tidak terhormat (negatif). Sebab dalam politik Demokrasi, tidak ada kawan dan lawan yang abadi, karena yang ada adalah kepentingan pribadi. Hal itu jelas sama sekali berbeda dalam politik Islam.

Selain pelaksanaan pemilu diatas, propaganda yang sering dilancarkan media pada dewasa ini ialah mengenai pemberitaan Islam dan teroris serta terorisme. Islam dan teroris seolah menjadi satu paket yang terus diliput oleh media massa, utamannya media Kafir Barat. Sehingga terjadilah opini publik yang mengartikan Islam sebagai agama yang keras, bengal, dan barbar yang menghasilkan partisipan terorisme belaka.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) semuanya, media memang menjadi alat propaganda yang efektif untuk menghasilkan dan membentuk pemikiran dan pola pikir masyarakat. Maka, propaganda pun demikian terkait erat dengan salah satu teori dalam komunikasi, yakni teori agenda setting.

Dengan agenda setting ini media dengan sepihak menampilkan dan memberikan asupan informasi kepada publik karena mengangap hal tersebut penting oleh media massa. Sebagai contohnya ketika media massa dipergunakan pemerintah Salibis Amerika Serikat (AS) dalam memprogandakan peperangan. Pada dasarnya, masyarakat AS menentang dengan keras peperangan yang diusung pemerintah AS. Namun dengan media, rezim Salibis AS mulai dari Fir’aun George Walker (W) Bush pasca serangan di Gedung Kembar WTC 9/11 tahun 2001 silam hingga Fir’aun Donald Tump pada saat ini kemudian memberikan propagandanya bahwa peperangan adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk menghasilkan kedamaian.

Melalui propaganda seperti itu kemudian pola pemikiran masyarakat pun berubah dan mendukung peperangan, bahkan tak sedikit yang rela menyumbang dananya untuk kepentingan tersebut terlepas dengan menggunakan berbagai teknik yang ada pada tehnik propaganda.

JANGAN HANYA PUAS DENGAN MEDIA SOSIAL (MEDSOS)

Saat ini, para pejuang, pendukung dan simpatisan Daulah Islamiyyah sudah tidak dipungkiri lagi memang memiliki ghiroh (semangat) yang luar biasa dalam menggeluti dan menekuni perang propaganda dan media, khususnya di media sosial (medsos). Namun seharusnya, mereka tidak berhenti dan puas hanya berada dalam medsos semata, apalagi perang media menggunakan sarana media online (website) juga masih terbuka sangat lebar sekali, terlebih mereka memiliki cita-cita yang mulia untuk tegaknya kalimat Allah Ta’ala.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas produksi juga salah satu faktor yang sangat penting dan baik dalam melakukan jihad di bidang media. Semakin baik kualitas media yang diproduksi, maka akan semakin baik pula daya tarik di hadapan umat dan masyarakat. Oleh karena itu, sudah sepantasnya para pejuang, pendukung dan simpatisan Daulah Islamiyyah selalu berusaha untuk selalu membuat berita, artikel dan propaganda terbaik seperti halnya engkau seorang mujahid di medan perang yang memberikan hal-hal terbaik yang kau miliki untuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Contoh simpelnya adalah seperti rilisan Daulah Islamiyyah yang selalu menghadirkan kualitas terbaik, baik dari segi rilisan berita, video, audio dan foto sehingga umat selalu dimanjakan yang seolah-olah sedang berada didalamnya. Jika ada yang berkata; “Saya cukup berjuang dalam front medsos saja lah”, maka sesungguhnya orang-orang seperti itu telah meremehkan peran media online dan para pejuang media Daulah Islamiyyah. Jika kita mau menilik kebelakang, para pejuang media Daulah Islamiyyah juga sudah pernah mencoba menggunakan sarana media online (website) sebagai bagian perang media dan propaganda, sebut saja salah satunya adalah situs online AzzamMedia yang dikelola oleh sejumlah Mujahidin Daulah Islamiyyah asal Nusantara yang sudah beraada di bumi Suriah/Syam.

Akan tetapi karena saking takutnya musuh-musuh Islam dari kalangan Kafirin, Musyrikin, Murtaddin dan Munafiqin terhadap kebenaran Daulah Islamiyyah itu sampai kepada umat Islam dan masyarakat melalui media-media online tersebut, akhirnya sejumlah media online (website) tersebut diblokir oleh mereka. Akan tetapi karena banyaknya Mujahid media di Daulah Islamiyyah yang kemudian memilih terjun ke front fisik (Qital) dan mendaftar amaliyah istisyhadiyyah, akhirnya pengelolaan media online (website) kurang tertangani secara baik dan profesional.

Namun seharusnya, mental dan semangat juang seorang pendukung dan simpatisan Daulah Islamiyyah hendaknya seperti “dodol (jenang) atau bola bekel”, dan jangan seperti “tempe kripik”. Tempe kripik itu sekali dipukul, maka akan langsung hancur ditambah dengan kata “berkeping-keping”. Sedangkan filosofi dodol, meskipun ditekan seperti apapun akan tetap sama dan tidak berubah bentuknya. Sementara itu filosofi bola bekel adalah, semakin bola itu dilempar kebawah, justru akan akan semakin naik keatas. Harusnya para pendukung dan simpatisan Daulah Islamiyyah diluar wilayah Iraq dan Syam juga seperti itu. Ketika ada kritikan dan masukan agar beramal lebih baik dengan memuat dan menjalankan media online secara baik dan profesional, hendaknya ia segera menyambutnya dan tidak menundanya jika ada kesempatan.

Jikalau media-media online yang sudah pernah dibuat dan dikelola oleh pejuang media Daulah Islamiyyah di Iraq dan Syam diblokir, maka mereka yang berada diluar wilayah tersebut seyogyanya meneruskan estafet perjuangan itu dengan membuat dan mengelola media yang sama untuk mengcounter propaganda musuh-musuh Islam.

Perang media yang saat ini sudah dilancarkan oleh pendukung dan simpatisan Daulah Islamiyyah melalui media sosial (medsos) hendaknya tidak berhenti disitu saja, akan tetapi harus ditingkatkan dengan membuat media online (website) yang dikelola secara baik dan profesional sesuai kaidah penulisan dan standar jurnalistik yang semestinya. Mereka jangan sampai puas hanya dengan medsos semata, sedangkan kesempatan untuk melebarkan sayap dakwah dan propaganda lewat media online begiitu terbuka lebar untuk saat ini.

Efektivitas penggunaan website merupakan strategi untuk menyebarkan informasi dan artikel di media online (website) dalam perang melawan tuduhan buruk yang mencoreng citra para Mujahidin dan Islam secara luas dan mendunia. Maka lagi-lagi dalam hal ini, Daulah Islamiyyah adalah contoh terbaik dalam menyebarkan artikel, berita dan propaganda. [RMC/dbs]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...