Sunday , December 15 2019
Home / Headline / Ibadah Puasa Ramadhan Dilihat dari Kacamata Kesehatan

Ibadah Puasa Ramadhan Dilihat dari Kacamata Kesehatan

(Mata-Media.Net) – Setiap ibadah yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya pasti mempunyai hikmah dan makna yang luar biasa, salah satunya adalah shiyam (puasa) Ramadhan. Kewajiban ini juga tertuang dalam firman-Nya didalam kitab-Nya yang suci dan mulia,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah 2 : 183)

Oleh karena itu, puasa Ramadhan yang berlangsung sebulan lamanya pun tentu memiliki hikmah yang terkandung didalamnya. Berhikmah dan bermakna, sekaligus besar faedahnya bagi hamba Allah yang mengerjakannya.

Kita ingat, ada ungkapan صُومُوا تَصِحُّوا (Berpuasalah kamu agar kamu menjadi sehat). Meskipun ini bukan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun sangat populer di bulan Ramadhan.

Meskipun ini bukan sabda Nabi, namun ibadah puasa itu sesungguhnya tersembunyi mutiara hikmah bagi kesehatan umat manusia. Lalu, apa makna ibadah puasa Ramadhan jika dipandang dari kacamata medis dan kesehatan? Banyak sekali, baik dari segi kesehatan jasmani (fisik), kesehatan rohani (jiwa), dan kesehatan mental.

Prof H.M. Hembing Wijayakusuma (1940-2011) menjelaskan, dari segi kesehatan rohani, puasa merupakan proses interval perut dengan segala perlengkapannya. Lain dari hari-hari di luar puasa, di mana organ-organ tubuh terutama alat-alat pencernaan bekerja ekstra keras.

Ibarat sebuah mesin yang bekerja terus secara nonstop dapat mengalami aus, yaitu melemahnya organ-organ tertentu dari tubuh. Bila kita hitung jam biologisnya, di luar bulan puasa, alat pencernaan bekerja selama 24 jam. Pada bulan puasa, alat pencernaan memperoleh istirahat selama enam (6) jam.

Sejak sahur sekitar pukul 04.00 WIB, lambung mencerna makanan yang masuk untuk diproses selama empat (4) jam, kemudian diturunkan ke usus kecil. Makanan yang telah diproses diserap untuk diolah jadi darah, kemudian melalui pembuluh darah dan jantung, disuplai ke seluruh tubuh.

Jadi, alat pencernaan istirahat sejak pukul 12.00 WIB sampai waktu berbuka puasa sekitar pukul 18.00 WIB. Selama waktu istirahat itu, kelenjar pasif tidak mengeluarkan asam lambung, sehingga dinding lambung yang luka menjadi kering. Hal inilah yang menyebabkan penyakit maag sembuh. Insya Allah…

Dalam ilmu tubuh manusia, semua aktivitas gerak manusia, baik yang dipengaruhi oleh kemauan–seperti makan, minum, berpikir, melihat, mendengar, dan sebagainya–tidak lepas dari serangkaian proses reaksi biokimia.

Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah perintah kelenjar hormon. Pekerjaan bermacam-macam hormon, termasuk insulin dan adrenalin yang mengatur rasa lapar, dipandu oleh hormon hipofisis yang terletak pada otak bagian bawah. Ibarat sang maestro, kelenjar hipofisis memimpin sebuah simponi di mana para pemainnya terdiri atas berbagai hormon.

Namun, itu semua kembali kepada iman dan taqwa dengan diawali niat yang baik dan benar karena Allah Ta’ala semata, bukan niatan lainnya. Kalau sudah berniat, maka kita ikhlas dan rela untuk melaksanakan puasa Ramadhan semata-mata karena Allah saja.

Memang, jika dikaitkan dengan puasa, keikhlasan niat dalam berpuasa akan membawa keseimbangan hormon yang melahirkan sikap batin tenang, damai, senantiasa berserah diri pada Allah. Jalinan erat antara iman dan biokimia tubuh itu seperti dua (2) mata koin yang tak bisa dipisahkan. [Abd/dbs]

Check Also

UNESCO Akui Kurma Sebagai Warisan Budaya Dunia Arab

MADINAH (Mata-Media.Net) – Pengetahuan, tradisi dan praktik yang berkaitan dengan kurma telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan ...