Sunday , December 15 2019
Home / Headline / 10 Nasehat Untuk Wanita Sholihah

10 Nasehat Untuk Wanita Sholihah

Oleh: Furqon

(Mata-Media.Net) – Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،

“Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah”. (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri sholihah yang bila dipandang akan menyenangkannya (suami), bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, tidak diragukan lagi bahwa istri adalah pemimpin rumah, karena ia yang bertugas menjaga rumah suaminya dan ia juga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugas tersebut. Apabila istri menjadi seorang wanita yang shalihah, tentu ia akan membangun rumah tangga yang kokoh dan melaksanakan dengan perkara-perkara yang dapat membawa kebahagiaan bagi seisi rumah. Mendidik anak-anaknya dengan baik hingga mereka menjadi orang-orang yang berakhlak mulia, membiasakan mereka untuk melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan mereka dari kebiasaan jelek dan akhlak yang buruk. Berikut ini 10 pesan dan nasehat bagi wanita sholihah:

1. Takwa Kepada Allah & Menjauhi Maksiat

Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncang kerajaan. Oleh karena itu, jangan engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah.

Wahai hamba Allah..! Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu beserta keluarga dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan menceraiberaikan keutuhannya.

Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata: Aku mohon ampun kepada Allah! itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku). Maka hati-hatilah wahai saudariku Muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:

– Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar.

– Duduk di majelis ghibah dan namimah, serta berbuat riya dan sum’ah.

– Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah Ta’ala berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang menolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita yang mengolok-olokkan”. (QS. Al-Hujurat 49 : 11)

– Keluar menuju pasar, mall atau pusat perbelanjaan tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahrom. Rasulullah bersabda, “Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya”. (HR. Muslim)

– Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pambantu dan pendidik-pendidik yang Kafir atau fasik demi mengejar kepentingan duniawi dan bukan ukhrowi.

– Meniru wanita-wanita Kafir. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud)

– Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.

Tabarruj (pamer kecantikan serta berdandan yang berlebihan alias ‘menor’) dan sufur (membuka wajah).

– Membiarkan sopir dan pembantu atau ipar laki-laki masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan yang mendesak. Sebab, ipar laki-laki bukanlah mahrom dan ini yang diperingatkan Rasulullah dengan sangat keras hingga seorang wanita tidak diperkenankan satu (1) atap rumah dengan iparnya laki-laki. Terdapat hadis dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita”. Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?”. Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut”. (HR. Bukhari 5232 dan Muslim 2172)

2. Berupaya Mengenal & Memahami Suami

Hendaknya engkau berupaya memahami suamimu. Apa–apa yang ia sukai, berusahalah memenuhinya dan apa-apa yang ia benci, berupayalah untuk menjauhinya dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah ‘Azza wa Jalla).

3. Ketaatan Yang Nyata Kepada Suami & Bergaul Dengan Baik

Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkanku seseorang sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya”. (HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi)

Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Rasulullah bersabda, “Dua (2) golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali”. (HR. Thabrani dan Hakim)
Ketahuilah wahai Muslimah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu. Dengan ketaatanmu pada suami dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjdai sebaik-baik wanita (dengan izin Allah).

4. Bersikap Qanaah (Merasa Cukup)

Kami menginginkan wanita Muslimah ridha dengan apa yang diberikan untuknya baik itu sedikit ataupun banyak. Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu. Renungkanlah wahai saudariku Muslimah, adabnya wanita salaf radhiyallahu ‘anhunna. Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat kepadanya. Apakah itu?? Ia berkata pada suaminya, “Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa bersabar dari api neraka”.

5. Baik dalam mengatur urusan rumah tangga, seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya. Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.

6. Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya, khususnya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya. Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.

7. Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya

Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu, maka sertailah ia dalam duka cita dan kesedihannya. Renungkanlah wahai saudariku kedudukan Ummul Mukminin, Khadijah radhiyallahu ’anha, dalam hati Rasulullah walaupun ia telah meninggal dunia. Kecintaan beliau kepada Khadijah tetap bersemi sepanjang hidup beliau, kenangan bersama Khadijah tidak terkikis oleh panjangnya masa. Bahkan terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam perjuangan baik secara fisik maupun seluruh hartanya, ketiakmenghadapi ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi bersama Rasulullah.

Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang masyur sehingga menjadikan Rasulullah merasakan ketenangan setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali pertama, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi, menanggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran”. (HR. Mutafaqun ‘alaihi, Bukhari dan Muslim)

8. Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaannya.

Wahai istri yang mulia..! Rasa terima kasih pada suami dapat kau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya maupun urusan rumah tangga dan selainnya. Atau engkau ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali cintamu di hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan hak-hakmu dengan membandingkan lautan keutamaan dan kebaikannya kepadamu. Jangan kau ingat-ingat sedikit kesalahannya, karena itu adalah bisikan setan.

Tidakkah engkau ingat sabda Nabi bahwa ketika seorang suami melakukan kebaikan sepenuh bumi, lalu ada satu (1) kesalahan yang diperbuatnya, maka ia akan mengungkit-ngungkit dan melupakan kebaikan tersebut. Jadikanlah sabda Nabi tersebut sebagai alarm agar engkau tidak melakukan hal itu wahai Muslimah.

9. Menyimpan Rahasia Suami & Menutupi Kekurangannya (Aibnya)

Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya. Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapapun, maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi. Saudariku Muslimah sholihah, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan perbuatan dzalim kepada Hakim atau Mufti atau orang yang engkau harapkan nasehatnya.

10. Kecerdasan & Kecerdikan Serta Berhati-Hati Dari Kesalahan

Termasuk kesalahan adalah, seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya. Padahal Rasulullah telah melarang hal itu dalam sabdanya, “Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihatnya”. (HR. Bukhari dalam An-Nikah)
Untuk para istri sholihah yang berhasrat menjadi penyejuk hati dan mata suaminya, ingatlah dan pegang baik-baik pesan serta nasehat ini. Semoga Allah memeliharamu dalam naungan kasih sayang dan rahmat-Nya. Aamiin.. [Edt; Abd]

Check Also

UNESCO Akui Kurma Sebagai Warisan Budaya Dunia Arab

MADINAH (Mata-Media.Net) – Pengetahuan, tradisi dan praktik yang berkaitan dengan kurma telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan ...