Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Selalu Ada Wanita Hebat Dibelakang Pria Yang Kuat

Selalu Ada Wanita Hebat Dibelakang Pria Yang Kuat

Oleh: Farida Abbas

(Mata-Media.Com) – Betapa hebat dan mulianya menjadi seorang wanita. Lembut, penuh kasih, dilindungi, dihormati dan dihargai. Kehadirannya juga diperlukan oleh setiap manusia di semua peringkat usia. Sebagai anak dia menyenangkan. Sebagai saudara, dia menentramkan. Sebagai istri, dia menginspirasi. Sebagai ibu, dia pendidik ulung dan sebagai teman, dia dikenal sebagai penasihat yang ikhlas.

Namun sebaliknya, wanita itu kekurangannya dari sisi akal dan agama, dan dalam banyak situasi, wanitalah pemeran utama di belakang layar. Baik pendidikan yang diterimanya, baiklah pula pengaruh yang dibawanya.

Boleh dikatakan, wanita adalah penentu jatuh atau tegaknya seorang pria. Malah dalam banyak kisah dari seluruh dunia, wanitalah sosok yang membangunkan pria, memberikan motivasi dan buah fikiran yang tak dapat ditepikan begitu saja.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, hal yang sama pun berlaku kepada keluarga Muslim-Mukmin yang cinta akan jihad fie sabilillah demi tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah dan tegaknya kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini.

Dalam sebuah keluarga, posisi paling penting adalah sebagai istri, karena dialah orang yang paling dekat dan paling mengerti suaminya. Di sinilah letaknya makna syarikatul hayah (pasangan kehidupan), yang setia menjadi sayap suami dalam keadaan suaminya hadir dan sewaktu ketiadaannya. Oleh karena itu, wanita sholihah nan mulia itu adalah yang bersungguh-sungguh dalam berusaha membantu suaminya secara hakiki dan maknawi dalam mencapai cita-cita hidup mulia atau mati syahid. Allah Ta’ala berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang Mukmin pria dan wanita, sebahagian daripada mereka adalah penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, mereka mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan ta’at kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah 9 : 71)

Apakah syarikatul hayah (partner kehidupan) itu? Apa saja kriteria yang diperlukan? Secara ideal, seorang wanita Muslimah haruslah memiliki modal sebagai berikut untuk menemani suaminya dalam menggapai cita-cita dan tujuan yang mulia tersebut:

  1. Memiliki Tingkat Iman Dan Taqwa Yang Memadai

Paling tidak, seorang Muslimah yang hebat harus mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Cukup pula untuk dia memilih dan memilah yang halal, haram dan yang syubhat. Dengan demikian, maka dia menggenggam izzah-nya dengan kuat.

Bila sudah berbekal dengan iman dan taqwa, dia tidak akan mudah berputus asa dan kemudian diserang kemurungan apabila ditimpa musibah dan ujian. Dan dua (2) bekal tersebut akan menjadi benteng dirinya dari terjebak ke dalam perbuatan atau kerja yang berisiko mengancam aqidah dan akhlaqnya dan keluarganya.

  1. Sebaiknya Dia Menguasai Ilmu Dien Dan Akademik

Wanita yang berwawasan luas akan menyadari pentingnya ilmu dien khususnya lantaran dialah yang akan memikul tanggung-jawab sebagai guru besar kepada anak-anaknya, baik semasa keberadaan suaminya di rumah maupun pada saat ketidakhadiran suaminya. Dengan ilmu tersebut, maka dia akan mampu berperan sebagai pembantu pribadi suami dan berupaya menjadi pendidik kepada anak-anaknya.

Sementara dengan kemahiran atau skill-skill tertentu dalam hal akademik, antara lain, memasak, menjahit, mengajar, memakai kendaraan dan lain-lainnya, maka dia akan memiliki inisiatif dan kreativitas dalam menjalani hidup, baik bersama suami maupun ketika bersendirian, tentunya dengan batasan-batasan yang sudah diatur oleh syariat.

  1. Berkemampuan Mengendali Emosi

Wanita Muslimah yang baik adalah yang mana ia harus sanggup bersusah-payah dan berusaha untuk qonaah, karena suami yang cinta kepada Allah, agama dan jihad akan otomatis menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat dan persinggahan semata, dan bukan sebagai kesenangan dunia saja. Menurut istilah Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Hakikat zuhud adalah tidak meletakkan dunia di hatinya”.

Ini bermakna, bahwa seorang istri harus kuat menahan hati dan mengendalikan emosi bila suatu saat, kekayaan kita mulai berkurang (faktor ekonomi).

Kuatnya menahan emosi dan hati ini juga harus diaplikasikan para wanita Muslimah ketika sang suami memiliki istri lebih dari satu, yang mana hal ini tentu saja akan menimbulkan kecemburuan antara istri satu dan saling dengan yang lainnya karena mereka pasti akan mengedepankan perasaannya masing-masing.

Oleh karena itu sebagai wanita yang hebat dan mulia, mereka akan menjadikan rasa emosi dan cemburunya itu kepada hal yang positif dan tidak menuntut lebih kepada suaminya untuk mengikuti perasaan mereka semata, tanpa memikirkan perasaan yang lainnya, terlebih menyingkirkan faktor syariat dalam hal itu. Maka disinilah pentingnya ketaatan dan kepercayaan seorang istri kepada suaminya sebagai pemimpin keluarga.

  1. Memiliki Mental Yang Kuat

Dalam bahasa yang lebih mudah, wanita harus kuat menahan perasaan. Ada banyak kondisi dan situasi yang menuntut kemampuan ini; kepergian (safar) suami ke rumah istri yang lainnya atau safar dalam waktu lama, anak yang sakit di kala suami sibuk dan tak dapat mendampinginya, dan keperluan ummat yang menyita waktu bersama suami. Atau ujian berat lainnya adalah ketika para wanita mendapati suami-suami mereka di penjara.

Sementara keluarga yang tidak mendukung dan kondisi keuangan yang tidak stabil, adalah satu hal yang tak dapat ditepiskan begitu saja. Bahkan berat pula kondisi ketika para suami berkeinginan “membantu” mengangkat derajat kaum hawa lainnya menjadi pendamping hidupnya.

Maka sungguh luar biasa semua itu, jika perasaan marah, cengeng, dan cemburunya mampu diletakkan di tempat yang betul dan baik serta wajar dalam timbangan syariat Allah Ta’ala.

  1. Mampu Mengawal Diri Dari Sifat Buruk Yang Timbul Dari Situasi Tertentu

Sifat buruk disini antara lain adalah membanggakan diri sebagai istri, membanggakan diiri sendiri dan kemudian mengesampingkan diri istri suaminya yang lainnya, yang dengan itu dia merasa paling tau banyak hal dan mengerti segala persoalan.

Membanggakan suami, merendahkan orang lain dan bisa juga menganggap dirinya adalah orang paling malang dan paling memerlukan perhatian banyak orang misalnya di media sosial (medsos), posting urusan keluarga dan pribadinya sendiri seperti yang sekarang ini marak terjadi ketika sedang ditimpa musibah dan lain sebagainya juga merupakan sifat buruk yang harus ditinggalkan dan dijauhi.

  1. Memiliki Daya Tahan Dan Kemahuan Yang Kuat

Daya tahan seorang istri-lah yang menjadi inspirasi dan menjadi pendorong utama para suami untuk melaksanakan amal dan karir. Dia ibarat antibody yang gigih melawan sembarang jenis bakteri, kuman dan virus yang menyerang jiwa dan semangat suami dan keluarga.

Dia berkemauan kuat untuk bersama-sama suaminya menempuh ombak lautan perjuangan di dalam kapal bernama “jihad” dan rumah tangga menuju jannah Rabbnya. Dengan kemauan kuat yang kadang kelihatan seperti sebuah kedegilan, jiwa rapuh ditegakkan, semangat layu disegarkan dan air mata diusap dan diganti dengan senyuman.

  1. Selalu Berinisiatif Untuk Kelihatan Menarik Di Mata Suami

Wanita Muslim harus menarik dari berbagai segi; penampilan, cara berpakaian, berfikir, bersikap, berbicara dan mengambil keputusan, dalam waktu senang maupun susah. Wanita beginilah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan dalam sebuah ucapannya, “Tidakkah mau aku kabarkan kepada kamu tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? Wanita sholihah adalah wanita yang bila dilihat suaminya menyenangkan, bila diperintah ia mentaatinya dan bila suaminya meninggalkannya, ia menjaga diri dan harta suaminya”. (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)

Oleh karena itu, berbahagialah wanita yang membahagiakan suaminya. Pria yang berjaya adalah pria yang bahagia lantaran telah memperoleh sebaik-baik perhiasan, yakni wanita sholihah.

Rasulullah dalam sebuah haditsnya mengatakan, “Ad-dunya mata’, wa khoiru mata’iha al-mar’atus shalihah” (dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah istri shalihah – HR. Muslim).

Pria yang berjaya adalah pria yang jiwanya bahagia dan merdeka, adalah pria yang tidak terpenjara oleh ulah dan ragam wanita di sisinya serta mengikuti apa saja syahwat, perasaan dan keinginan istri yang bertentangan dengan syariat. Untuk itu, kesempatan belajar dan hak dididik perlulah diberi kepada kaum wanita. Tak ada ruginya pria memberi kesempatan wanita untuk belajar. “You get what you give”.

Yakinlah, tangan yang menghayun buaian, akan mampu menggoncangkan dunia. Wallahu a’lam  bish-showab… [MMC/hdcom]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...