Tuesday , October 15 2019
Home / Headline / Mengenal Istri-Istri Rasulullah (Ummahatul Mukminin)

Mengenal Istri-Istri Rasulullah (Ummahatul Mukminin)

Oleh: Ummu Abdillah

(Mata-Media.Com) – Salah satu syariat yang Allah Subahanahu wa Ta’ala kepada umat Islam adalah syariat ta’addud atau poligami, atau memiliki istri lebih dari 1 dan maksimal 4. Namun, salah satu hal yang hanya berlaku untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, beliau diizinkan oleh Allah untuk menikahi lebih dari 4 wanita. Setiap orang yang memahami sejarah dakwah Rasulullah dengan benar maka akan berkesimpulan bahwa pernikahan yang beliau lakukan sangat sarat dengan tujuan yang mendukung dakwah.

Sementara itu, salah satu hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpoligami adalah sebagai pelajaran berharga untuk para Muslimah. Karena ternyata, istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakili semua karakter wanita yang bisa menjadi teladan bagi kaum Muslimah.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, istri-istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan para wanita yang mulia, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Allah memerintahkan Rasulullah untuk berpoligami selain untuk berdakwah, adalah untuk menunjukkan keutamaan-keutaamaan sifat para Ummahatul Mukminin.

Mereka merupakan para wanita yang senantiasa mendapatkan gelar Ummul Mukminin yaitu ibu dari orang-orang yang beriman karena sikap mereka yang memang harus dijadikan teladan bagi setiap Muslimiah, baik dalam mengelola kecemburuan diantara mereka, ketaatan mereka kepada suami, maupun pengorbanan dan perjuangan mereka dalam menemani suaminya, yakni Rasulullah, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka nantinya akan selalu mendampingi Rasulullah di surga. Lalu, siapa sajakah istri-istri Rasulullah? Mari kita mengenal mereka secara bersama-sama :

1. Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha (556-619 M)

Beberapa hal yang terkait dengan Khadijah bintu Khuwailid, diantaranya Khadijah adalah seorang wanita yang berasal dari bangsa Quraisy. Beliau lahir pada tahun 68 sebelum hijrah. Akan tetapi Khadijah terkenal memiliki kemuliaan, baik dari segi nasab maupun akhlaknya. Rasulullah pernah bersabda,

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ

Wanita terbaik ialah Maryam putri Imran dan Khadijah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Status Khadijah sebelum menikah dengan dengan Rasulullah adalah janda yang ditinggalkan wafat oleh dua (2) suami terdahulunya yang bernama Abi Haleh At-Tamimy dan Oteaq Al-Makzomy. Bagi Rasulullah, Khadijah adalah istri beliau yang pertama. Dan selama menikah dengan Khadijah, Rasulullah tidak pernah melakukan poligami, kecuali setelah Khadijah wafat.

Khadijah merupakan istri yang paling dicintai oleh Rasulullah setelah Aisyah radhiyallahu’ anha. Bahkan karena kecintaan Rasulullah terhadap Khadijah, hingga membuat Aisyah cemburu, namun kecemburuan Aisyah bisa diredam oleh Rasulullah setelah dinasehati, dan Aisyah kemudian meminta maaf. Aisyah pernah berkata,

ما غرتُ على نساءِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ إلا على خديجةَ . وإني لم أُدركها . قالت : وكان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ إذا ذبح الشاةَ فيقول ” أرسلوا بها إلى أصدقاءِ خديجةَ ” قالت ، فأغضبتُه يومًا فقلتُ : خديجةُ ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ” إني قد رُزِقْتُ حُبَّها

Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi melebihi kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah berjumpa dengannya. Biasanya ketika beliau menyembelih kambing, beliau memerintahkan: “Bagikanlah daging kambing ini kepada teman-teman Khadijah“. Suatu hari, kecemburuanku membuat beliau marah. Kataku, “Khadijah?”, beliau lalu mengatakan, “Aku dikaruniai rasa cinta kepadanya”. (HR. Bukhari)

Khadijah adalah wanita yang merupakan ibu kandung dari seluruh putra-putri Rasulullah, kecuali Ibrahim. Adapun putra-putri Rasulullah yang lahir dari rahim Khadijah adalah Al- Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Semua putra-putri Rasulullah tersebut wafat sebelum Rasulullah wafat, kecuali Fathimah.

Khadijah wafat ketika Fathimah berusia 6 tahun, tepatnya 3 tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Para ulama berbeda pendapat tentang usia Khadijah ketika beliau dinikahi oleh Rasulullah.

Pendapat pertama menyatakan bahwa ketika menikah dengan Khadijah, Rasulullah berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Pendapat tersebut berdasarkan sebuah riwayat yang disebutkan Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubro :

وتزوجها رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو بن خمس وعشرين سنة وخديجة يومئذ بنت أربعين سنة ولدت قبل الفيل بخمس عشرة سنة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya (Khadijah) ketika beliau berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun”.

Pendapat kedua menyatakan bahwa ketika menikah dengan Rasulullah, Khadijah berusia 28 tahun. Hal ini berdasarkan pada sebuah riwayat Al-Hakim yang menyatakan bahwasannya dari Muhammad Ibnu Ishaq berkata :

وكان لها يوم تزوجها ثمان وعشرون سنة

“Pada hari pernikahannya (Khadijah), beliau berusia 28 tahun”.

Pendapat ketiga menyebutkan bahwa ketika menikah dengan Khadijah, saat itu Rasulullah berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah sendiri kala itu berusia 35 tahun. Pendapat tersebut dinukil oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim bahwa usia Rasulullah ketika menikah dengan Khadijah adalah 25 tahun, sedangkan usia Khadijah ketika itu adalah 35 tahun.

2. Saudah bintu Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anha (596-674 M)

Ada beberapa hal yang terkait dengan Saudah bintu Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anh, diantaranya Saudah merupakan wanita yang dinikahi oleh Rasulullah setelah Khadijah wafat. Beliau merupakan satu-satunya istri Rasulullah hingga beliau menikah dengan Aisyah bintu Abu Bakar Ash-Shidiq.

Saudah merupakan janda dari seorang sahabat bernama Sakran bin Amr Al-Amiry yang wafat di Habasyah. Lalu datanglah Rasulullah meminang Saudah, dan akhirnya beliau menikahi Saudah bintu Zam’ah pada bulan Ramadhan tahun 10 hijriyah.

Saudah adalah tipe istri yang menyenangkan bagi Rasulullah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibrahim An-Nakha’i dalam kisahnya. Dalam kisah yang tertulis dalam Thobaqoh Kubra tersebut mengatakan bahwa: “Saudah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah,tadi malam aku shalat di belakangmu, ketika ruku’ punggungmu menyentuh hidungku dengan keras, maka aku pegang hidungku karena takut kalau keluar darah,” maka tertawalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibrahim berkata, Saudah biasa membuat tertawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan candanya”.

Saudah anha adalah salah satu istri Rasulullah yang taat dan setia hingga beliau wafat. Ketika Rasulullah hendak menceraikannya, maka Saudah pun memohon agar Rasulullah tidak melakukan hal itu. Saudah termasuk istri Rasulullah yang berperan dalam penyebaran sunnah-sunnah Rasulullah, di mana beliau menghafal dan menyampaikan hadist-hadist yang banyak diriwayatkan oleh para imam terkemuka seperti Nasa’i, Ahmad, Bukhari, serta Abu Dawud.

Saudah bintu Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anha wafat pada akhir kekakhilafan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, tepatnya tahun 54 hijriyah di Madinah.

3. Aisyah bintu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma (614-678 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Aisyah diantaranya adalah, Ummu Abdillah Aisyah Ash-Siddiqoh binti Ash-Shiddiq adalah wanita yang dinikahi oleh Rasulullah setelah Saudah bintu Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah putri dari sahabatAisyah adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Keistimewaan lain yang dimiliki Aisyah adalah bahwa kesuciannya telah diakui Allah Ta’ala dari atas langit ke-7, dan malaikat telah menampakkan Aisyah kepada Rasulullah sebelum menikahi Aisyah. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah,

رأيتُك في المنام ثلاث ليال ، جاء بك الملك في سرقة من حرير، فيقول : هذه امرأتك فأكشف عن وجهك فإذا أنت فيه، فأقول : إن يك هذا من عند الله يُمضه

“Aku melihatmu (Aisyah) dalam mimpiku selama tiga (3) malam. Malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih. Malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu’. Lalu kusingkapkan penutup wajahmu, ternyata itu adalah dirimu. Aku bergumam, ‘Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti Dia akan menjadikannya nyata”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ummu Abdillah Aisyah Ash-Siddiqoh binti Ash-Shiddiq adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah. Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah terjadi pada bulan Syawwal tahun 11 setelah kenabian, tepatnya 2 tahun 5 bulan setelah peristiwa hijrah serta setahun setelah pernikahan Rasulullah dengan Saudah berlangsung. Saat menikah dengan Rasulullah, Aisyah berumur 6 tahun. Hal itu berdasarkan sebuah hadist bahwasannya Aisyah berkata,

تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وبنى بي وأنا بنت تسع سنين

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku ketika aku berusia 6 tahun. Dan beliau kumpul bersamaku ketika aku berusia 9 tahun”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah adalah satu-satunya wanita yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan masih gadis atau perawan. Dia adalah istri Rasulullah yang paling paham tentang agama serta yang paling pandai, bahkan secara mutlak dia adalah wanita terpandai diantara para wanita lainnya.

Aisyah wafat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 57 H. Akan tetapi ada juga pendapat yang menyatakan bahwa dia wafat pada tahun 58 H dan makamnya berada di Baqi’.

4. Hafshah bintu Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma (607-antara tahun 648 dan 665 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Hafshah bintu Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma diantaranya, Hafshah adalah putri dari sahabat Umar yang memiliki kepribadian yang kuat seperti sang ayah. Selain itu, dia juga seorang wanita yang pandai dalam hal membaca dan menulis, meskipun pada waktu itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum wanita.

Hafshah adalah seorang janda, di mana suaminya yang bernama Khunais bin Khudzafah As-Sahmi telah meninggal sekitar tahun 2-3 Hijriyah pada saat terjadinya perang badar. Hafshah juga terkenal sebagai ahli ibadah, sehingga dia di sebut sebagai Shawwamah (wanita rajin puasa) dan Qawwamah (wanita rajin shalat malam).

Hafshah dengan Rasulullah ketika berusia 21 tahun. Pernikahan tersebut terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah. Hafshah menjalani kehidupan rumah tangga bersama Rasulullah selama 8 tahun, dan ketika usianya menginjak 29 tahun, Rasulullah wafat.

Hafshah meninggal pada usia 63 tahun, tepatnya pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, yaitu tahun 45 H di Madinah, dan jenazahnya dimakamkan di Baqi’.

5. Zainab bintu Khuzaimah radhiyallahu ‘anha (595-626 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Zainab bintu Khuzaimah radhiyallahu ‘anhuma, diantaranya, Zainab terkenal dengan kedermawanan yang ia miliki, sehingga ia mendapatkan gelar sebagai Ummul Masakin (ibunya orang-orang miskin). Belia berasal dari bangsa Quraisy dan merupakan janda dari seorang pahlawan pada masa terjadinya perang uhud yang bernama Abdullah bin Jahsy radhiyallahu ‘anhu.

Zainab dinikahi Rasulullah pada bulan Ramadhan tahun 3 Hijriyah. Zainab bintu Khuzaimah wafat dan dimakamkan di Baqi’.

6. Ummu Salamah, Hindun bintu Abi Umayyah radhiyallahu ‘anha (599-683 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Ummu Salamah, Hindun bintu Abi Umayyah radhiyallahu ‘anha, diantaranya, Ummu Salamah adalah seorang wanita Bani Makhzum. Dia adalah putri dari seorang Quraisy yang paling dermawan bernama Umayyah bin al-Mughirah yang dilahirkan pada tahun 24 sebelum Hijriyah.

Ummu Salamah sebelumnya adalah istri seorang Muhajirin, yakni Abu Salamah radhiyallahu ‘anhuma. Bersama Abu Salamah beliau memiliki beberapa anak. Pada tahun 4 H, kesedihan melanda keluarganya. Abu Salamah, sang suami tercinta meninggal dunia. Namun dia tidak hanyut dalam kesedihannya. Dia teringat pesan Nabi agar membaca satu doa ketika tertimpa musibah,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي ، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, yaa Allah, berikanlah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantikanlah aku dengan yang lebih baik. Karena siapa yang membaca doa ini akan Allah gantikan yang lebih baik. Ketika hendak berdoa, wanita sholihah ini bergumam,

أُعَاضُ خَيْرًا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ ثُمَّ قُلْتُهَا، فَعَاضَنِي اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَآجَرَنِي فِي مُصِيبَتِي

“Saya diberi ganti yang lebih baik dari pada Abu Salamah? Akupun tetap membacanya. kemudian Allah gantikan suami untukku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah berikan pahala untuk musibahku”.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi pengganti Abu Salamah untuknya”. (HR. Muslim 918).

Hadits ini juga menjadi pesan dan teladan bagi wanita Mukminah agar tak perlu takut untuk menikah lagi setelah suaminya gugur fie sabilillah atau syahid, apalagi terpikir untuk tidak menikah lagi selamanya karena berharap agar bisa bersama suaminya yang sudah meninggal di akhirat nanti, sedangkan dia masih muda dan bisa melahirkan kembali anak-anak yang lebih banyak. Karena hal itu juga merupakan sunnah para shahabiyah.

Terkenal sebagai wanita yang cerdas, Ummu Salamah selalu memberi saran suaminya dan mendukung dakwah suaminya. Lebih dari itu, beliau dikenal wanita yang menawan. Aisyah mengungkapkan isi hatinya terkait Ummu Salamah,

لَمَّا تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ سَلَمَةَ حَزِنْتُ حُزْنًا شَدِيدًا لِمَا ذَكَرُوا لَنَا مِنْ جَمَالِهَا ، قَالَتْ : فَتَلَطَّفْتُ لَهَا حَتَّى رَأَيْتُهَا ، فَرَأَيْتُهَا وَاللَّهِ أَضْعَافَ مَا وُصِفَتْ لِي فِي الْحُسْنِ وَالْجَمَالِ ، قَالَتْ : فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِحَفْصَةَ ، وَكَانَتَا يَدًا وَاحِدَةً ، فَقَالَتْ : لا وَاللَّهِ إِنْ هَذِهِ إِلا الْغَيْرَةُ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Salamah, aku sangat sedih sekali. Karena banyak orang menyebut kecantikan Ummu Salamah. Akupun mendekatinya untuk bisa melihatnya. Setelah aku melihatnya, demi Allah, dia jauh-jauh lebih cantik dan lebih indah dari apa yang aku bayangkan. Akupun menceritakannya kepada Hafshah – mereka satu kubu – kata Hafshah, “Tidak perlu cemas, demi Allah, itu hanya karena bawaan cemburu”. (Thabaqat Al-Kubro Ibn Sa’d, no. 9895)

Ummu Salamah meriwayat sekitar 13 hadits yang terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim. Beliau wafat tahun 59 H, ada yang mengatakan, 62 H, di usia 84 tahun. Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling terakhir meninggal. Jenazah beliau dimakamkan di Baqi.

7. Zainab bintu Jahsy bin Rabab radhiyallahu ‘anha (588-641 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Zainab bintu Jahsy bin Rabab radhiyallahu ‘anha diantaranya, Zainab merupakan salah satu istri Rasulullah yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah, di mana ibu dari Zainab yang bernama Umayyah binti Muththalib adalah putri dari paman Rasulullah. Dia terkenal sebagai ahli ibadah dan wanita yang gemar bersedekah.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Zainab bernama Barra’. Dia adalah istri dari Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat dari Rasulullah. Akan tetapi dalam pernikahan mereka terdapat ketidakcocokan sehingga keduanya pun bercerai.

Pernikahan yang terjadi antara Rasulullah dan Zainab berlangsung tanpa adanya wali dan saksi. Hal ini berdasarkan sebuah hadist yang menyatakan bahwasannya Zainab pernah berkata,:

زوجكن أهاليكن وزوجني الله من فوق سبع سموات

“Kalian dinikahkan oleh orang tua kalian, sementara aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang tujuh”. (HR. Bukhari)

Pernikahan tersebut terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 H. Akan tetapi ada pendapat yang menyatakan bahwa Rasulullah dan Zainab menikah pada tahun 6 H. Zainab meninggal pada usia 53 tahun, yaitu pada Tahun 20 H, dan jenazahnya dimakamkan di Baqi’.

8. Juwairiyah bintu Al-Harits radhiyallahu ‘anha (605-670 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Juwairiyah bintu Al-Harits radhiyallahu ‘anha diantaranya, Juwairiyah merupakan seorang wanita yang berasal dari kelompok Yahudi Bani Musthaliq. Ayahnya yang bernama Harits bin Abi Dhirar merupakan pemimpin kaum tersebut kala itu. Sebelum memeluk Islam, nama Juwairiyah bintu Al-Harits adalah Barrah.

Juwairiyah adalah janda dari Musafi’ bin Shafwan yang meninggal dalam peperangan yang terjadi antara pasukan Rasulullah dengan Bani Musthaliq di lembah Al-Muraisi yang merupakan salah satu daerah sumber air bagi bani Musthaliq.

Juwairiyah dianggap sebagai wanita yang paling berkah bagi kaumnya, karena setelah pernikahannya dengan Rasulullah, banyak sahabat Nabi yang membebaskan budak mereka yang berasal dari Bani Musthaliq. Juwairiyah meninggal pada tahun 56 H di Madinah. Waktu itu pemerintahan dipegang oleh Khalifah Muawiyyah.

9. Ummu Habibah bintu Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma (591-665 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Ummu Habibah bintu Abi Sufyan radhiyallahu ‘anha diantaranya, Ummu Habibah adalah saudara sepupu dari Utsman bin Affan. Ibunya yang bernama Shafiyah bintu Abil ‘Ash adalah saudara dari Affan yang merupakan ayah dari Utsman.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Ummu Habibah telah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy. Akan tetapi suaminya tersebut meninggal di Habasyah. Dari pernikahannya itu, Ummu Habibah dikaruniai seorang putri yang bernama Habibah. Ummu Habibah meninggal pada masa khalifah Muawiyyah pada tahun 44 H di Madinah.

10. Shafiyah bintu Huyai bin Akhtab (628-672 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Shafiyah bintu Huyai bin Akhtab diantaranya, Shafiyah berasal dari bangsa Yahudi Bani Nadzir yang tinggal di daerah Khaibar yang letaknya sekitar 120 km ke utara kota Madinah. Daerah tersebut terkenal sebagai sebuah kota besar yang di dalamnya terdapat kebun-kebun kurma yang sangat luas serta benteng-benteng yang sangat banyak. Ayahnya yang bernama Huyai bin Akhtab merupakan kepala suku dari Bani Nadzir.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Shafiyah bintu Huyai bin Akhtab pernah menikah dengan 2 lelaki, yang pertama dengan Salam bin Masykam ketika ia belum masuk Islam, dan setelah berpisah, lalu Shafiyah menikah dengan Kinanah bin Abil Haqiq yang akhirnya terbunuh ketika kaum Muslimin menaklukan Bani Nadzir. Sementara itu, Shafiyah menjadi salah satu budak tawanan.

Pernikahan Rasulullah dengan Shafiyah terjadi pada tahun 7 H, yaitu setelah Bani Nadzir berhasil ditaklukkan. Shafiyah disebut sebagai wanita Shadiqah oleh Rasulullah, yang artinya adalah wanita yang jujur imannya. Shafiyah meninggal pada tahun 50 H dan dimakamkan di Baqi’.

11. Maimunah bintu Al-Harits radhiyallahu ‘anhu (602-681 M)

Hal-hal yang berkaitan dengan Maimunah bintu Al-Harits radhiyallahu ‘anhu diantaranya, Maimunah adalah saudara dari ibu kandung Khalid bin Walid yang bernama Lubabah Ash-Shugra. Selain itu, Maimunah juga merupakan saudara seibu dari istri Rasulullah yang bernama Zainab bintu Khuzaimah.

Pernikahan antara Rasulullah dengan Maimunah terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun 7 H, seusai umrah qadha. Maimunah meninggal pada tahun 61 H di Saraf, yaitu ketika beliau sedang dalam perjalanan pulang dari ibadah haji. Jenazahnya dimakamkan di Saraf.

Selain kesebelas istri tersebut, Rasulullah juga memiliki 2 budak wanita yaitu :

1. Mariyah Al-Qibtiyah

Hal-hal yang berkaitan dengan Mariyah Al-Qibtiyah diantaranya, Mariyah Al-Qibtiyah merupakan hadiah yang diterima Rasulullah dari Raja Muqauqis sebagai jawaban atas surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajaknya untuk memeluk agama Islam.

Dari Mariyah Al-Qibtiyah, Rasulullah mendapatkan seorang putra yang bernama Ibrahim. Akan tetapi Ibrahim meninggal ketika usianya belum genap 2 tahun. Mariyah Al-Qibtiyah meninggal pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, dan jenazahnya dimakamkan bersama para istri Rasulullah lainnya.

2. Raihanah binti Zaid Al-Quradziyah

Hal-hal yang berkaitan dengan Raihanah bintu Zaid Al-Quradziyah diantaranya, Raihanah awalnya adalah seorang tawanan dari Bani Quraidzah, lalu Rasulullah menjadikannya sebagai budak. Akan tetapi pendapat yang lain menyatakan bahwa Rasulullah telah membebaskan Raihanah bintu Zaid Al-Quradziyah lalu menjadikannya istri. [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...