Sunday , December 8 2019
Home / Headline / Berkatalah yang Baik Wahai Muslimah atau Diamlah

Berkatalah yang Baik Wahai Muslimah atau Diamlah

(Mata-Media.Net) – Sungguh beruntung orang yang banyak diam
Ucapannya dihitung sebagai makanan pokok
Tidak semua yang kita ucapkan ada jawabnya
Jawaban yang tidak disukai adalah diam
Sungguh mengherankan orang yang banyak berbuat aniaya
Sementara meyakini bahwa ia akan mati

Muslimah shalihah, tidak setiap yang kita dengar harus kita sampaikan, tidak setiap hal yang kita alami harus kita ceritakan, dan tidak semua pertanyaan harus kita jawab dan ada jawaban. Karena ada kalanya, diam itu lebih baik bagi diri kita, namun menyampaikan, menjawab dan menceritakan sesuatu hal juga baik bagi diri kita. Hal ini sesuai dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau hendaklah ia diam”. (Muttafaqun ‘Alaih: Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)

Bagi sebagian wanita ataupun seorang istri, ketika ada problematika yang ia hadapi, tidak jarang yang kemudian mulut dan lisannya itu mengungkapkan apa saja yang ada didalam isi hati. Bahkan ketika tidak terkontrol, ada pula yang idak sabar dengan ujian hidup dan kemudian mencela takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap dirinya. Padahal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya (hadits no. 6474) dari Sahl bin Sa’id radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada diantara dua (2) janggutnya dan dua kakinya, kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”. Ketahuilah muslimah shalihah, yang dimaksud dengan “sesuatu yang ada diantara dua janggutnya” adalah mulut, sedangkan “sesuatu yang ada diantara dua kakinya” adalah kemaluan.

Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu diantara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam”. (Lihat Al-Fath, 10 : 446)

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya (dan sebelum ia yakin pula bahwa ucapannya itu akan ada kemaslahatannya), silahkan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara dan lebih baik diam)”.

Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara”.

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, halaman 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Beliau berkata pula di halaman 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua (2) telinga, sedangkan diberi hanya satu mulut, supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sering kali orang menyesal pada kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan itu lebih mudah daripada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya”.

Oleh karena itu, dalam sebuah syair disebutkan,
Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya
Tanganku kan lenyap, namun tulisan tanganku kan abadi
Bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal
Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu balasan”.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’ (QS. Qaf 50 : 18)

Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menyungkurkan leher manusia didalam neraka melainkan hasil lisan mereka”. (Shahih Al-Jami’, no. 5136)

Dalam menjelaskan ayat diatas, Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, ”Siapa pun yang mengetahui hal itu dan mengimaninya dengan keimanan yang sebenarnya maka ia bertakwa kepada Allah berkenaan dengan lisannya, sehingga ia tidak berbicara kecuali kebaikan atau diam” (Tafsir As-Sa’di). [NayMa/MMC]

Check Also

Tentara Saudi Tembaki Pangkalan Militer AS di Florida, Tewaskan & Lukai 11 Tentara

FLORIDA (Mata-Media.Net) – Sebanyak 11 tentara Amerika Serikat (AS) tewas dan terluka ketika seorang tentara ...