Saturday , September 21 2019
Home / Umat / Remaja / Menikah Itu Bikin Kaya, Percaya Atau Tidak?

Menikah Itu Bikin Kaya, Percaya Atau Tidak?

(Mata-Media.Net) – Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan lagi Maha mengetahui”. (QS. An-Nuur 24 : 32)

Diantara tafsiran surat An-Nuur ayat 32 diatas adalah, “Jika kalian itu miskin, maka Allah yang akan mencukupi rizki kalian. Boleh jadi Allah mencukupinya dengan memberi sifat qona’ah (selalu merasa cukup) dan boleh jadi pula Allah mengumpulkan dua (2) rizki sekaligus (rizki dari sang suami dan istri”. (Lihat An-Nukat wal-‘Uyun)

Dari ayat diatas, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

التمسوا الغنى في النكاح

“Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah”. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim mengenai tafsir ayat diatas).

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah menceritakan kisah seorang laki-laki yang tidak memiliki apa-apa selain sehelai sarung yang dikenakannya. Ketika menikah, ia tidak memiliki barang apapun yang bisa digunakannya sebagai mahar. Bahkan cincin besi pun tak bisa ia dapatkan. Lalu oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ia disuruh memberikan mahar berupa mengajari istrinya ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihafalnya. Qadarullah, setelah menikah ia dapat mencukupi nafkah untuk dirinya dan keluarganya. Masya Allah…

Rasulullah juga mempertegas janji Allah Ta’ala terhadap orang yang menikah ini dalam sabdanya,

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ

“Ada tiga (3) orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu orang yang berjihad (berperang) di jalan Allah, orang yang menikah (untuk yang pertama, kedua, ketiga dan atau keempat) karena menghendaki kesucian (kehormatan dirinya), dan budak mukatab yang bertekad melunasi kebebasannya”. (HR. An-Nasa’i)

Nah, untuk zaman sekarang ini, masyarakat sering beranggapan dan mengidentikkan sebuah adalah ajang untuk menghabiskan dana. Sebab masyarakat awam pada umumnya beranggapan dan berpikiran kalau menikah itu harus yang mewah hingga menghamburkan uang yang banyak. Benarkah demikian?

Pertama, menikah tidak harus dengan kondisi yang mewah dan gemerlap jika memang keadaannya tidak mampu atau tidak kaya. Sebab kalau melihat sejumlah riwayat, tak sedikit pula sahabat yang menikah dengan cara yang sederhana, bahkan ada pula yang memberi mahar dengan sebuah cincin besi atau memberikan mahar berupa mengajari istrinya ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihafalnya.

Kedua, lebih jauh dari itu, siapa sangka pernikahan justru memberi sebaliknya. Maksudnya, jika ketika sebelum menikah orang itu biasa saja dan sederhana, maka ia akan menjadi KAYA dan menjadi tentram hatinya setelah menikah.

Perasaan lebih bahagia dan tentu menjadi lebih kaya itu bisa diperoleh jika ia qona’ah dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah atas dirinya, yakni takdir yang baik ataupun entah itu takdir yang menurutnya tidak baik menurut dirinya. Akan tetapi lebih kaya secara hati, tentu saja itu akan diperoleh. Lebih kaya secara finansial, juga sebuah kemungkinan karena hal itu sudah menjadi janji Allah kepada orang-orang yang menikah.

Sesungguhnya pernikahan sudah terbukti banyak membuat orang lebih bahagia. Pernah mendengar guyonan klasik seperti ini? “Ternyata menikah itu cuma 1 persen enaknya, 99 persennya itu enak banget..!!!”.

Itu menandakan bahwa pernikahan selain membuat lebih bahagia, juga membuat hidup jadi lebih sehat. Dua (2) hal itu saling berkaitan erat. Satu sama lain juga saling mengingatkan untuk selalu menjaga keimanan dan kesehatan sehingga tak sampai jatuh sakit, baik sakit badan maupun jiwanya.

Selain itu, ketika Anda terpaksa akhirnya harus beristirahat sejenak karena kondisi badan yang lemas saat situasi tertentu, pasangan akan mengingatkan dan merawat dengan sabar.

Bahkan, Harvard Health Blog pada tahun 2016 melansir bahwa orang yang telah menjalani pernikahan dengan baik memiliki kesempatan hidup lebih lama, minim stres, dan terhindari dari serangan jantung serta stroke.

Dengan demikian, sistem imun tubuh pasangan yang telah menikah menjadi lebih tinggi jika mengalami kehidupan yang sehat dan bahagia. Biaya kesehatan pun bisa diminimalisir dan digunakan untuk kebutuhan lainnya.

Kalau saat sendiri, Anda hanya berkutat dengan penghasilan sendiri, maka saat menikah, penghasilan Anda berlipat. Itu karena ada 2 penghasilan yang kemudian disatukan.

Dengan menikah, jumlah aset yang dimiliki juga akan jauh lebih besar, baik berupa uang atau benda mati. Memiliki aset bersama tentu lebih menarik dibandingkan memiliki aset seorang diri.

Aset bersama secara individu biasanya akan lebih lama terkumpul. Sedangkan aset bersama akan menciptakan akumulasi yang lebih cepat karena adanya penggabungan aset. Akan tetapi perlu dicatat, aset ini, baik milik suami atau istri sejatinya hanyalah titipan dari Allah Ta’ala. Maka tak perlu terlalu dibangga-banggakan mana yang lebih banyak antara milik istri atau suami. Oleh karena itu seharusnya, aset yang ada digunakan dan dibelanjakan untuk mencari pahala dan ridho Allah.

Jadi, adakah yang masih takut menikah baik pertama, kedua, ketiga dan keempat (bagi laki-laki) karena alasan ekonomi? Bagi wanita, baik yang masih gadis atau janda juga tak perlu takut dan khawatir ketika dinikahi untuk menjadi istri pertama, kedua, ketiga ataupun keempat hanya karena alasan ekonomi. Sekali lagi, semoga tidak ada lagi yang merasa seperti itu. Sebab, Allah-lah Sang Maha Pemberi rezeki. [Abd/dbs]

Check Also

Mengenal Istri-Istri Rasulullah (Ummahatul Mukminin)

Oleh: Ummu Abdillah (Mata-Media.Com) – Salah satu syariat yang Allah Subahanahu wa Ta’ala kepada umat ...